TREATMENT ANTI RAYAP

TREATMENT ANTI RAYAP

1. Treatment anti rayap pada bangunan gedung
Pengendalian serangan rayap meliputi upaya pencegahan serangan rayap pada bangunan dan pemberantasan atau menyembuhkan bangunan yang terserang rayap. Tindakan pengendalian yang paling baik adalah melakukan pencegahan serangan rayap pada bangunan sebelum konstruksi dibangun. Di samping secara ekonomis lebih murah tindakan ini jauh lebih mudah dilakukan. Menyembuhkan kayu yang diserang rayap yang sudah terpasang dalam konstruksi bangunan bahkan mungkin akan lebih mahal daripada menggantikan komponen yang rusak itu saja, jika ditinjau secara totalitas dari segi biaya dan manfaat. Belum lagi penggantian kayu tersebut harus diikuti oleh pemberantasan rayap yang menyerangnya.
Sampai saat ini, pengendalian serangan rayap pada bangunan masih bertumpu pada penggunaan termitisida yang diaplikasikan baik melalui perlakuan tanah (soil treatment) maupun dengan cara impregnasi termitisida ke dalam kayu melalui pengawetan kayu. Namun, sejalan dengan peningkatan pengetahuan mengenai biologi rayap perusak kayu dan perkembangan bidang-bidang ilmu lain, teknologi baru yang lebih aman dan ramah lingkungan terus dikembangkan.
Beberapa teknik treatment anti rayap diantaranya: teknik eliminasi, penggunaan kayu awet atau diawetkan, dan treatment anti rayap pra dan pasca konstruksi, maupun teknik-teknik pengendalian yang lainnya.

2. Teknik Pengendalian Eliminasi
Serangan rayap seringkali diawali dari bawah bangunan gedung, Kondisi di bawah lantai yang banyak sisa-sisa tunggak atau kayu bangunan yang tidak terpakai seringkali menciptakan kondisi yang disukai dan potensial menjadi serangan rayap, hal ini perlu dihindari. Bagian terpenting yang harus diperhatikan adalah aspek rancang bangun bangunan gedung tersebut. Bangunan harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menekan kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan rayap terutama sumber-sumber kelembaban.
Setelah bangunan berdiri, pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan tindakan perawatan bangunan. Pemeriksaan bangunan secara rutin perlu dilakukan, kemudian bagian-bagian yang rusak terutama kebocoran atap, saluran air atau AC, daerah yang terkena tampias air hujan. Sirkulasi udara yang tidak baik (ventilasi tidak optimum) perlu segera diperbaiki karena akan menjadi sumber kelembaban yang potensial menciptakan kondisi yang disukai rayap.

3. Teknik Pengendalian dengan Kayu dan Diawetkan
4. Teknik Pengendalian Pra- dan Pasca Konstruksi
Perlakuan tanah (soil treatment) adalah upaya memasukan pestisida anti rayap (termitisida) ke tanah di bawah dan di sekeliling bangunan agar terbentuk penghalang kimia yang memisahkan antara koloni rayap di dalam tanah dengan kayu di dalam bangunan. Menurut sifat aplikasinya, ada dua teknik perlakuan tanah yaitu (1) perlakuan pra konstruksi (pre construction treatment) bila perlakuan dilaksanakan menjelang/sewaktu bangunan didirikan dan perlakuan pasca konstruksi (post construction treatment) bila perlakuan dilaksanakan pada bangunan yang sudah berdiri. Di Indonesia kedua teknik tersebut telah distandarisasi penggunaannya untuk perlindungan bangunan rumah oleh Direktorat Tata Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum dalam bentuk SNI-03-2403-1991 untuk perlakuan pra konstruksi dan SNI-03-2404-1991 untuk perlakuan pasca konstruksi.

treatment anti rayap
treatment anti rayap                                                                              (image credit:https://www.burnettstermiteandpest.com)

 

READ
RAYAP KAYU KERING DAN PENGENDALIANNYA

Beberapa termitisida dapat digunakan pada perlakuan tanah pra konstruksi dan pasca konstruksi. Termitisida dari kelompok organoklorine seperti chlordate dan dieldrin dikenal sangat efektif dan mampu memberikan perlindungan terhadap bangunan hingga mencapat 30 tahun sehingga termitisida ini digunakan secara luas sebelum dilarang penggunaan karena potensial untuk menimbulkan masalah lingkungan dan meracuni manusia. Menyusul pelarangan penggunaan termitisida chlordane dan dieldrien, telah tersedia beberapa jenis termitisida seperti klorpyrifos, permethrin, cypermethrin, alfamethrin, deltamethtrin, imidacloprid, dan lain-lain yang dapat digunakan pada perlakuan tanah tersebut dapat memberikan perlindungan antara satu sampai 5 tahun tergantung pada cara penggunaan dan kondisi tanah.

Chemical barrier atau dikenal juga dengan metode perlakuan tanah (soil treatment) merupakan salah satu metode pengendalian atau pencegahan serangan rayap tanah pada bangunan gedung yang paling umum digunakan di Indonesia. Pada metode ini larutan termitisida dengan dosis tertentu diaplikasikan pada tanah galian pondasi dan tanah bawah lantai. Dengan cara tersebut diharapkan terbentuk rintangan kimiawi di bawah dan di sekitar bangunan gedung yang akan menghalangi akses serangan rayap tanah pada bangunan gedung tersebut (Alifudin dan Nandika, 2014)

Dengan perkataan lain, metode perlakuan tanah memiliki fungsi untuk mencegah rayap mencapai sumber makanannya, yaitu kayu-kayu konstruksi bangunan gedung, mebel, dan barang berharga lainnya yang berasal dari material berlignoselulosa seperti dokumen, buku, dan uang.

Beberapa bahan aktif termitisida yang digunakan untuk aplikasi perlakuan tanah diantaranya fipronil, silafloufen, chlorphyrifos, permethrin, fenvalerate, cypermethrin, bifenthrin, chlordane, aldrin, dieldrin dan imidacloprid. Namun penggunaan beberapa termitisida tanah seperti aldrin dan dieldrin telah dilarang di Indonesia. Efektifitas dari termitisida tersebut umumnya dapat mencapai 5-7 tahun (Sharma et al.2008)

5. Pengendalian Rayap dengan Cara Pengumpanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!