TREATMENT ANTI RAYAP PADA KAYU

TREATMENT ANTI RAYAP PADA KAYU

Treatment anti rayap pada kayu

Beberapa jenis kayu secara alami pada bagian terasnya tahan terhadap serangan rayap, meskipun tidak ada yang tahan secara mutlak.  Kayu ulin, merbau, damar laun atau jati merupakan jenis kayu yang digolongkan tahan terhadap serangan rayap.  Mekanisme ketahanan alaminya tersebut dikendalikan oleh kandungan zat ekstraktif yang terdapat pada kayu teras, seperti zat leusiderin dan tectoquinon.  Namun demikian, kayu tahan rayap sangat sedikit jumlahnya, sebagian besar adalah kayu kurang awet sehingga disukai rayap.  Oleh karena itu untuk meningkatkan ketahanan kayu yang tidak awet tersebut dapat dilakukan dengan tindakan pengawetan kayu sangat diperlukan.

Menteri Pekerjaan Umum Pekerjaan Umum pada tahun 1988 menerbitkan surat keputusan yang menyatakan bahwa kayu-kayu kelas awet tiga ke atas harus diawetkan.  Untuk menunjang peraturan tersebut telah pula diterbitkan Standar Tata cara Pengawetan Kayu untuk Bangunan Rumah dan Gedung (SNI 03-3528-1194) dan spesifikasi kayu awet.

Pengawetan kayu merupakan pemberian perlakuan kimia dan perlakuan fisik terhadap kayu untuk memperpanjang masa pakai kayu.  Dalam kenyataan sehari-hari, yang dimaksud dengan pengawetan kayu adalah proses pemasukan bahan kimia ke dalam kayu untuk meningkatkan keawetannya (Tabel 1).  Treatment Anti Rayap Pada Kayu berupa Pengawetan kayu dapat dilakukan dengan beberapa metode:

1. Metode Pelaburan dan Penyemprotan

Metode ini termasuk sederhana, yaitu dengan jalan melabur bahan pengawet pada permukaan kayu.  Pada umumnya metode ini hanya menghasilkan penetrasi bahan pengawet beberapa milimeter saja ke dalam kayu.  Oleh karena itu penggunaannya sangat terbatas, misalnya dalam hal metode lain yang lebih baik tidak dapat dilakukan karena tidak ada fasilitas.

Metode pelaburan biasa juga dipakai untuk mengawetkan kayu yang sudah telanjur dipasang, misalnya sebagai konstruksi bangunan, sehingga harus dibongkar terlebih dahulu jika akan menggunakan metode lain.  Cara ini biasanya dipakai juga untuk melabur bekas pemotongan pada kayu yang sudah diawetkan, dengan maksud menutup bagian kayu yang terbuka.

Bahan pengawet dilabur/disemprotkan ke permukaan kayu yang telah dikeringkan lebih dahulu dan dibiarkan dalam beberapa waktu.  Pelaburan bahan pengawet dapat dilakukan dua kali, akan tetapi pelaburan kedua baru dapat dilakukan apabila hasil pelaburan pertama telah kering.  Dalam metode ini biasanya digunakan bahan pengawet minyak atau larut minyak.

2. Rendaman

Teknik ini dengan cara merendam kayu ke dalam tangki-tangki yang berisi bahan pengawet larut air.  Umumnya lama perendaman maksimum 2 minggu.  Absorbsi bahan pengawet terutama terjadi dalam 2-3 hari pertama, setelah itu absorsi berjalan sangat lambat.  Salah satu cara rendaman yang mendapat paten di Inggris pada tahun 1982 disebut Kyanizing (berasal dari nama penemunya yaitu Jhon Kyan).  Disini kayu direndam selama 7-10 hari dalam larutan mercuri klorida (sublimat) 0.67%.  Cara ini kemudian mengalami modifikasi dan disebut improved kyanizing, dimana bahan pengawet yang digunakan adalah campuran merkuri klorida 0.67% dengan NaCl 1%

Tabel Bahan Kimia dan nonkimia yang digunakan dalam pengendalian rayap, teknis aplikasi dan kelemahannya

Bahan Kimia/Patogen Teknik Aplikasi Kelemahan
1. Organofosfat (klorfevinphos, klorpirifos, Fenitrothion, Fenthion, Isofenfos phoxim)

 

Perlakuan Klorpirifos dapat digunakan dalam bentuk kapsul yang bersifat slow realease atau mikrokapsul di dalam pengumpanan Persistensi di dalam tanah rendah
2. Pyrethroid

Cypermetrin, Fenvalerat,Permetrin, Silafluofen, Imidacloprid

Perlakuan tanah Beracun terhadap ikan dan lebah
3. Karbamat

Aldicarb, Bendiocarb, Carbofuran, Carbaryl, Carbosulfan, Propoxur

Perlakuan tanah Beberapa bahan kimia tersebut memerlukan kelembaban tertentu
4. Gas Beracun

Metil Bromida, Phospine, Sulphuryl fluoride, Chloropicrin

Fumigasi Sangat beracun Metil Bromida memiliki efek pada lapisan ozon
Bahan lain

Diflubenzuron

Hexaflumuron, Bakteri, Jamur, Virus, Nematoda, Kawat Baja

Pengumpanan atau penyemprotan Penghalang fisik pada bangunan baru Diperlukan dalam jumlah besar Harganya relatif mahal

a. Rendaman Dingin

Teknik ini dilakukan dengan cara kayu-kayu diawetkan dengan merendamnya ke dalam larutan bahan pengawet larut minyak dalam suhu kamar selama beberapa hari atau beberapa minggu.  Lebih dari separuh absorsi terjadi pada hari pertama.  Kayu yang akan diawetkan harus mengalami pengeringan terlebih dahulu, supaya bahan pengawet dapat terserap lebih banyak.  Penetrasi bahan pengawet pada kayu yang tidak mengalami pengeringan lebih dahulu biasanya sangat kecil.

b.Rendaman Panas Dingin

Cara ini mendapat paten pada tahun 1867 atas nama C.A Seely dan dikenal juga dengan metode open tank treatment atau termal process.  Pada metode ini kayu-kayu yang telah dikeringkan direnda, ke dalam bahan pengawet panas, kemudian ke dalam bahan pengawet dingin.  Pemanasan berfungsi untuk mengeluarkan udara dan air dari permukaan kayu, sedangkan pendinginan menyebabkan udara dan uap air pada lapisan luar kayu menjadi mengerut dan dengan sendirinya menimbulkan semacam vakum.  Untuk mengatasi kevakuman ini,tekanan udara cenderung menekan bahan pengawet masuk ke dalam  kayu.

c. Rendaman Bahan Kimia

Pengendalian dapat dilakukan dengan perlakuan impregnasi stirena.  Sari et all. (2009) menguji ketahanan kayu rambutan dan kayu pinus terhadap serangan rayap kayu kering C. Cynocephalus.  Hasil pengujian menunjukkan bahwa impregnasi stirena pada kayu pinus menghasilkan polymer loading (PL) lebih tinggi daripada kayu rambutan.  Impregnasi stirena juga mampu meningkatkan daya tahan kayu pinus dan kayu rambutan terhadap serangan rayap.  Namun, daya tahannya masih lebih rendah dibandingkan dengan kayu yang diawetkan dengan CKB 3%.

3. Pencelupan

Dalam cara ini kayu diawetkan dengan mencelupkannya ke dalam larutan bahan pengawet selama beberapa detik atau beberapan menit.  Agar hasilnya lebih baik, kayu-kayu tersebut dikeringkan terlebih dahulu.   Metode ini lebih menguntungkan dari metode pelaburan karena penetrasi bahan pengawet relatif lebih baik dibandingkan pelaburan.  Bahan pengawet yang digunakan biasanya adalah senyawa boron atau fluor.

4. Vakum Tekan

pengawetan kayu dengan vakum tekan
pengawetan kayu dengan vakum tekan (image credit:leetattimber.com)

Metode pengawetan dengan vakum umumnya dilakukan di dalam suatu tabung silinder tertutup.  Dibandingkan metode lain metode ini mempunyai beberapa keuntungan: 

  1. Proses pengawetan relatif cepat.
  2. Proses pengawetan dapat dikontrol sehingga retensi dan penetrasi dapat diatur sesuai dengan keinginan dan dengan sendirinya pemakaian bahan pengawet menjadi efisien.
  3. Retensi lebih besar serta penetrasinya lebih dalam dan merata. Metode ini sangat dianjurkan untuk mengawetkan kayu-kayu yang akan dipakai pada konstruksi jembatan,menara pendingin, pelabuhan, dan bangunan perumahan.                                                                                                                                                                                           

5. Kayu Asap

Perlakuan yang digunakan yaitu dengan proses pengasapan pada kayu yang akan digunakan dalam bangunan.  Hadi et al (2009) menguji kayu hasil pengasapan terhadap serangan rayap tanah C. curvignathus dan rayap kayu kering C.cynocephalus.  Hasil yang diperoleh bahwa kayu mindi mempunyai kerapatan 0.43 g.cm3 dan kayu sugi 0.34 g/cm3.  Kayu mindi lebih tahan dibandingkan dengan kayu sugi terhadap serangan rayap tanah dan rayap kayu kering.  Umumnya perlakuan pengasapan kayu akan meningkatkan ketahanan terhadap serangan rayap menjadi kayu dengan kelas keawetan yang lebih tinggi berdasarkan SNI (2006).

6. Metode injeksi

Prinsip metode injeksi adalah mendorong bahan pengawet ke dalam kayu dengan bantuan tekanan yang dihasilkan oleh suatu injektor khusus melalui satu atau lebih liang aplikasi yang dipersiapkan sebelumnya dan mempunyai katup (valve).  Dengan adanya katup tersebut serta adanya pori dan rongga-rongga diantara serat kayu, makan bahan pengawet menyebar ke berbagai  arah dan tidak keluar dari liang aplikasi.

Metode pengawetan kayu di Indonesia telah distandarisasi pada tahun 1994 (SNI 03-3528-1994).  Golongan bahan pengawet yang dipakai adalah golongan bahan pengawet larut air seperti CCA (copper chrom arsenat), CCB (cooper chrom boron), BFCA (boron flour copper arsenat)

7. Treatment Anti Rayap Pada Kayu Dengan Oriented Strand board (OSB)

Salahsatu cara mengatasi kekurangan bahan baku kayu adalah pengembangan produk-produk inovatif yang memanfaatkan bahan berlignoselulosa lain yang dapat mensubtitusi bahan kayu yang digunakan, oriented strand board (OSB) merupakan salahsatu  komposit struktural dan salah satu produk panel-panel kayu yang didesain untuk menggantikan kayu lapis.  Saad et al. (2009) menguji ketahanan bambu betung terhadap serangan rayap tanah C.curvignathus.  Hasil yang diperoleh bahwa pada umumnya kerapatan papan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku makan rayap, dengan kerapatan yang tinggi, Oriented Strand Board (OSB) cenderung lebih keras sehingga dapat menjadi penghambat perilaku makan dari rayap.  Persentase kehilangan berat menunjukkan bahwa contoh uji OSB mengalami kehilangan berat berkisar 2.36-8.89%.  Kehilangan berat  tertinggi pada OSB yang dibuat dengan rasio face-core 60:40 yang kadar perekatnya 6% , yang terendah adalah OSB yang dibuat dengan rasio 40:60 yang kadar perekatnya 4%, sedangkan bambu yang menjadi kontrol adalah sebesar 15.52%.  Kehilangan berat merupakan salah satu parameter untuk menilai keefektifan dari bahan yang diujikan.  Semakin besar kehilangan yang terjadi, maka akan semakin banyak bahan yang dimakan oleh rayap dan semakin tidak tahan  bahan yang diujikan terhadap serangan rayap.

Perekat Isocyanat-MF

Ria et al. (2009) menguji ketahanan bambu betung terhadap serangan Rayap C.curvignathus, diperoleh hasil bahwa penggunaan perekat Isocyanat-MF dan penambahan parafin memberikan pengaruh nyata terhadap kehilangan berat contoh uji tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas rayap.  Papan komposit yang memiliki ketahanan terhadap serangan rayap tanah terbaik adalah jenis papan B2, yaitu papan yang memiliki komposit perekat Isocyanat-MF 1:1 dengan kadar parafin 2%, sehingga kombinasi komposisi perekat dan kadar parafin ini merupakan kondisi optimum untuk pembuatan papan komposit dari limbah kayu dan anyaman bambu.

Damayanti et al. (2009) juga melakukan pengujian pada kayu lapis sengon dengan perekat kombinasi Isocyanat-UF terhadap serangan rayap C.curvignathus.  Hasil yang diperoleh bahwa upaya peningkatan pemanfaatan kayu sengon sebagai kayu rakitan dalam bentuk kayu lapis dapat meningkatkan kelas awet kayu sengon dari semula kelas V menjadi kelas II-IV.  Dari hasil pengujian terhadap serangan rayap tanah, keempat kayu lapis yang dibuat dengan berbagai kombinasi perekat memiliki derajat proteksi yang baik dimana serangan hanya di permukaan kayu.  Racun yang terkandung pada bahan perekat UF maupun isocyanat bersifat racun kontak, dimana rayap seluruhnya mati setelah sedikit memakan kayu lapis.  Penggunaan perekat isocyanat dalam rangka meningkatkan keawetan kayu lapis sengon sebagai kayu lapis semi eksterior kurang efektif bila dibandingkan dengan produk kayu lapis sengon yang sudah umum dibuat yaitu menggunakan 100% UF.  Namun, untuk tujuan keamanan terhadap kesehatan dan pertimbangan ekonomis, penambahan 25% Isocyanat masih dimungkinkan.

pencarian terkait pest management:

READ
IN TRANSIT FUMIGATION

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!