Racun Tikus (Rodentisida)

Racun Tikus (Rodentisida)

Pengendalian tikus melibatkan baik pengendalian nonkimia dan kimiawi (racun), dalam tulisan kali ini, hanya akan menjelaskan mengenai racun tikus.  Berdasarkan cara kerjanya, racun tikus dibagi menjadi dua golongan yaitu:

  1. Racun akut (nonantikoagulan) yang bekerja cepat dengan merusak sistem syaraf tikus.
  2. Racun tikus (antikoagulan) yang bekerja lambat dengan cara menghambat proses koagulasi atau penggumpalan darah, serta memecah pembuluh darah kapiler.

Beberapa spesifikasi racun akut dan kronis yang menunjukkan kelebihan dan kekurangannya sebagai berikut:

Berdasarkan toksisitasnya, racun akut dapat dibagi  menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Toksisitas tinggi:arsenik trioksida, brometalin, krimidin, fluoroasetamid, fosasetim, silaktran, sodium fluoroasetat, strikhnin, dan talium sulfat.
  2. Toksisitas sedang:alfa-kloralos, alfa-khlorohidrin, ANTU, kalsiferol, pirinuron, dan zink fosfide).
  3. Toksisitas rendah: norbormide, red squill, dan skilirosid

Beberapa racun akut yang masih diaplikasikan terhadap tikus dan mencit adalah:

  1. Fosfida seng (Zinc Phospide)

Bahan yang berbentuk tepung, berwarna kehitam-hitaman, dan berbau bawang putih ini telah lama digunakan sebagai racun tikus.  Tikus yang makan umpan ini akan mati dalam waktu beberapa menit sampai beberapa jam.  Jika tikus memakan dosis subletal, maka akan terjado efek jera umpan.

Pengaruh peracunan sekunder terhadap predator tikus relatif kecil, karena racun ini akan segera didegradasi saat berada di dalam lambung tikus.  Kematian pada tikus terjadi karena mengalami gagal jantung yang juga diikuti dengan gagal ginjal.  Tikus yang makan racun ini akan mati dengan kondisi perut, tungkai, dan ekor yang meregang.

Bahan racun ini memiliki antidota berupa copper sulfate.  Selain diaplikasikan dalam bentuk pelet atau sesuai dengan bentuk tepung jejak yang diikuti dengan perilaku menjilati badannya (grooming).  Untuk aplikasi dalam ruangan, umpan beracun harus ditempatkan di dalam wadah.

  1. Brometalin

Bahan ini dikenal sebagai stopfeed rodenticides yang artinya sekali tikus makan dosis letal, maka langsung akan berhenti aktivitasnya (mati), karena hanya dibutuhkan jumlah sedikit untuk mematikan tikus. Tikus yang makan bahan racun ini akan mengalami paralisis (kelumpuhan) dan sistem syaraf akan kehilangan sensitifitasnya.  Tikus akan mati dengan posisi yang khas yaitu tungkai belakang meregang di belakang tubuhnya.  Kematian akan tercapai dalam waktu 3 hari.  Tidak ada antidota yang sensitif.

  1. Kholekalsiferol (Vitamin D3)

Bahan ini bersifat lebih stabil daripada Vitamin D sebelumnya.  Dengan nama dagang Quintox® bahan ini bekerja dengan cara mengganggu pemanfaatan unsur Ca di dalam tubuh tikus.  Dengan membuang unsur Ca melalui sistem sirkulasi maka keseimbangan kimia di dalam cairan tubuh akan berubah dan fungsi ginjal akan terganggu.  Racun ini memiliki antidota cortisone sodium sulfate.

Berdasarkan kelompok kimia bahan aktifnya, racun kronis dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu hydroxycoumarine dan indanedione.  Berdasarkan saat produksi, racun kronis juga  terbagi menjadi dua, yaitu racun antikoagulan generasi I (walfarin, fumarin/coumafuryl, coumachlor. Coumatetralyl, pival, diphacinone, isovaleryl indanedione, dan chlorophacinone) dan generasi II (diphenacoum, brodifacoum, bromadiolone, dan flocoumafen).  Racun antikoagulan generasi II diproduksi karena sudah terjadi atau diperkirakan akan terjadi resistensi tikus terhadap racun antikoagulan generasi pertama.

Beberapa contoh racun kronis generasi I dan II yang masih banyak diaplikasikan terhadap tikus dan mencit adalah:

  1. Walfarin

Bahan ini merupakan antikoagulan, yang pertama kali ditemukan untuk mengendalikan tikus, merupakan hasil pengujian dari peneliti di Wisconsin, kata walfarin berasal dari Wisconsin Alumni Research Foundation.  Hingga kini, bahan aktif ini masih digunakan walaupun sudah menurun  jauh sejak terjadinya resistensi tikus dan ditemukannya antikoagulan generasi II.  Dengan dosis tunggal yang tinggi tidak efektif mematikan tikus, sementara dosis berganda yang rendah lebih efektif dalam menekan populasi tikus.  Dengan dosis 1 ppm  per hari selama 5 hari dapat mematikan 85% populasi tikus, Tikus riul lebih rentan terhadap bahan ini dibandingkan dengan tikus rumah dan mencit rumah.  Demikian juga babi dan domba sangat rentan, sementara burung memiliki toleransi yang tinggi.

  1. Klorofasinon

Bahan aktif ini memiliki LD50 akut oral 2,1 ppm untuk tikus dan 1,06 ppm untuk mencit, dan tersedia dalam konsentrasi 0,005 % umpan sereal serta 0,2% untuk tepung jejak.  Bahan racun ini tidak boleh terkontaminasi oleh insektisida yang dapat menurunkan palatabilitas tikus.  Bahan aktif ini tersedia bentuk konsentrat kering atau konsentrat minyak mineral.  Klorofasinon tidak efektif untuk tikus/mencit yang sudah resisten terhadap walfarin.

  1. Difasinon

Bahan aktif ini merupakan antikoagulan yang cukup tua, banyak digunakan dalam formulasi umpan makanan, blok, pelet, cair, dan tepung jejak, dengan konsentrasi 0,005%.  Bahan kimia ini lebih bersifat toksik terhadap tikus daripada mencit, dan dapat mematikan 100% populasi tikus riul dalam waktu 3-10 hari, sementara untuk mencit 88% populasi akan mati dalam 3-9 hari.  Diphacinone tidak efektif untuk mengendalikan tikus yang sudah resisten terhadap walfarin.

  1. Brodifacoum

Bahan ini merupakan rodentisida yang berpotensi baik dalam mengendalikan tikus karena dapat diterima oleh tikus dengan baik dan juga dapat diaplikasikan dalam berbagai kondisi lingkungan yang berbeda.  Konsentrasi penggunaan adalah 0,005% dalam bentuk umpan pelet dan blok.  Kematian populasi tikus dapat mencapai 100% hanya dengan satu hari pemberian, disebut dengan single dose rodenticide.  Juga efektif untuk mengendalikan populasi tikus yang sudah resisten terhadap rodentisida generasi I.  Nama dagang yang ada di Indonesia adalah Klerat, Petrokum, dan Agrilon.

ratgone racun kronis tikus
               ratgone racun kronis tikus
  1. Bromadiolon

Bahan racun ini tersedia dalam bentuk umpan makanan, pelet, atau blok dengan konsentrasi bahan aktif 0,005%.  Dengan dosis tunggal, dalam aplikasi satu malam racun ini dapat mematikan 100% populasi tikus.  Kematian tikus biasanya dimulai pada hari ke-3 setelah memakan bahan racun ini.  Dilaporkan telah terjadi resistensi bahan aktif ini terhadap tikus riul di Inggris, Kanada, dan Denmark.

  1. Difetialon

Aplikasi bahan racun tikus ini dalam bentuk pelet atau blok, dengan konsentrasi penggunaan 25 ppm.  Di lapang bahan aktif ini menunjukkan hasil yang baik terhadap tikus riul dan mencit rumah, dan juga efektif untuk populasi tikus dan mencit yang telah resisten terhadap antikoagulan generasi pertama.  Rerata lama kematian pada tikus riul adalah 7 hari (4-11 hari), sementara untuk mencit rumah 5,5 hari (3-9 hari).

pencarian terkait pest management:

READ
Tikus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!