PESTISIDA BIODEGRADABLE ?

PESTISIDA BIODEGRADABLE ?

Pestisida Biodegradable Adakah?

Auditor sering menanyakan, apakah Anda menggunakan pestisida biodegradable? Sebelum kita menjawab tentang ada tidaknya pestisida biodegradable, pertama kita perlu mendefinisikan dengan tepat terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pestisida kemudian arti dari biodebradable tersebut.  Dalam PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA  NOMOR 107/Permentan/SR.140/9/2014 TENTANG PENGAWASAN PESTISIDA, pestisida didefinisikan :

Pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:

  1. memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagianbagian tanaman atau hasil-hasil pertanian;
  2. memberantas rerumputan;
  3. mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan;
  4. mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman tidak termasuk pupuk;
  5. memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan dan ternak;
  6. memberantas atau mencegah hama-hama air;
  7. memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan; dan/atau

Pestisida biodegradable yang diharapkan adalah pestisida yang memiliki kemampuan untuk terurai, dengan aman dan relatif secara biologis.

Penggunaan biodegradable yang diketahui pertama kali dalam konteks biologis adalah pada tahun 1959 ketika digunakan untuk menggambarkan kerusakan material menjadi komponen yang tidak berbahaya oleh mikroorganisme.  Sekarang biodegradable umumnya dikaitkan dengan produk ramah lingkungan yang merupakan bagian dari siklus bawaan bumi dan mampu terurai kembali menjadi unsur-unsur alami.

pestisida biodegradable
                      pestisida biodegradable

Produk yang “biodegradable” memiliki kemampuan untuk terurai, dengan aman dan relatif cepat, secara biologis, ke dalam bahan-bahan mentah alam dan membaur kembali ke lingkungan. Produk-produk ini bisa saja bahan padat yang terurai ke dalam tanah (yang juga disebut compostable), atau bahan cair yang terurai ke dalam air. Plastik yang biodegradable dimaksudkan untuk hancur ketika bertemu mikroorganisme (bahan alami seperti tepung jagun atau minyak sayur ditambahkan untuk membantu proses ini).

Pembuangan berkelanjutan (sustainable) produk apa pun membutuhkan sampahnya untuk kembali ke bumi dan mampu untuk terurai. Alam mengurai apa pun yang ia buat kembali menjadi bahan-bahan dasarnya, agar makhluk-makhluk baru dapat dibuat dari yang lama. Setiap sumber daya yang berasal dari alam akan kembali ke alam—tanaman dan hewan biodegrade, bahkan minyak mentah akan terurai (biodegrade) ketika terpapar air, udara, dan garam-garam tertentu. Alam telah menyempurnakan sistem ini—dan kita hanya perlu belajar cara untuk mengikutinya.

Namun, ketika banyak sumber daya berubah menjadi produk, mereka telah diproses sedemikian rupa sehingga tidak lagi dikenali oleh mikroorganisme dan enzim yang bertugas mengembalikannya kepada pada bahan-bahan dasarnya. Minyak mentah, misalnya, akan terurai dalam kondisi alaminya, tapi begitu diubah menjadi plastik, ia menjadi polusi. Daripada kembali ke alam, produk-produk ini malah mengotori tanah, udara, dan air kita.

Dari semua kata-kata tentang lingkungan yang sering diucapkan, ‘biodegradable’ mungkin adalah kata yang sering disalah gunakan dan paling sulit untuk dipahami. Karena di masa lalu tidak ada pedoman dan aturan, banyak produk disebut biodegradable tanpa alasan yang jelas. Sayangnya, kata biodegradable telah sering digunakan pada produk-produk yang sebenarnya tidak (seperti detergen dan plastik) dan tidak digunakan untuk produk-produk yang sebenarnya iya (seperti sabun dan kertas).

Daun adalah contoh sempurna untuk produk yang biodegradable—ia tumbuh di musim semi, digunakan oleh tanaman untuk proses fotosintesis pada musim panas, jatuh ke tanah pada musim gugur, dan membaur ke dalam tanah—memupuk tanaman untuk musim berikutnya.

Parameter Biodegradable

Konsep dasarnya tampak sangat jelas, namun terdapat beberapa faktor untuk dipertimbangkan dalam menentukan derajat biodegradasi sebuah produk atau bahan.

Pertama adalah sifat dasar kemampuan untuk terurai dalam produk. Bahan apa pun yang berasal dari alam akan kembali kea lam selama dalam kondisi yang relatif alami. Jadi, produk yang berbahan dasar tanaman, hewan, atau mineral mampu terurai, tapi produk-produk buatan manusia persenyawaan petrochemical secara umum tidak mampu terurai. Ketika bahan buatan manusia diracik di sebuah laboratorium, kombinasi elemen-elemen yang dibuat tidak ada di alam sehingga tidak ada mikroorganisme yang cocok untuk mengurainya.

Kedua adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bahan tersebut terurai. Di alam, berbagai bahan butuh waktu yang berbeda-beda untuk terurai. Sebuah daun butuh sekitar satu tahun hingga menjadi bagian dari tanah hutan. Sebuah cangkul besi, sebaliknya, butuh bertahun-tahun untuk mengkarat hingga terurai dan pohon besar dapat butuh waktu berdekade-dekade untuk benar-benar terurai. Nalar sederhana memberitahu kita bahwa bahan apa pun akan pada akhirnya terurai, meskipun butuh waktu berabad-abad.

Jadi, apa waktu yang wajar bagi sesuatu untuk terurai (biodegrade)? Tergantung bahan itu sendiri. Contoh daun menunjukkan bahwa kecepatan wajar adalah apa yang wajar bagi ekosistem. Sebuah cairan yang akan masuk ke jalur air harus terurai cepat, sedangkan tidak masalah jika sebuah kertas koran butuh waktu lebih lama untuk terurai. Di lain pihak, plastik tidak akan pernah terurai seumur hidup kita dan jelas tidak akan kembali terurai menjadi bahan minyak mentah seperti ketika ia mulai tercipta.

Ketiga, ada pertanyaan produk tersebut terurai menjadi apa? Bisa jadi banyak produk terurai menjadi bahan-bahan beracun. Dalam bukunya, The Closing Circle, seorang ekologis Barry Commoner memberikan contoh unit benzene dalam detergen sintetis berubah ketika terurai menjadi phenol (carbolic acid), sebuah zat yang beracun bagi ikan. Untuk menjadi biodegradable yang sebenarnya, sebuah bahan atau zat harus terurai menjadi karbondioksida (gizi untuk tanaman), air, dan berbagai jenis mineral yang tidak akan membahayakan ekosistem (garam atau soda kue, misalnya, sudah dalam kondisi alaminya dan tidak butuh diurai lagi).

Keempat, karakteristik lingkungan dimana produk tersebut berada juga dapat mempengaruhi kemampuannya untuk terurai. Detergen, misalnya, dapat terurai dalam lingkungan air tawar ‘aerobic’ (mengandung oksigen), tapi tidak dalam lingkungan ‘anaerobic’ (kekurangan oksigen) seperti solokan, rawa-rawa, tanah yang terbanjiri, atau surface water sediments.

Banyak produk bersifat terurai di dalam tanah, misalnya potongan dahan pohon, sampah makanan, dan kertas, tidak akan terurai ketika disimpan di tempat pembuangan sampah (landfills) karena lingkungannya kekurangan sinar matahari, air, dan bakteri yang dibutuhkan bagi proses pembusukan. The Garbage Project, sebuah studi tentang sampah kita yang dilakukan oleh sebuah kelompok di Universitas Arizona, telah menemukan hot dog, tongkol jagung, dan anggur yang berusia dua puluh lima tahun dan masih berbentuk, juga menemukan kertas-kertas koran sejak dari tahun 1952 yang masih mudah terbaca. Ketika kondisi yang dibutuhkan untuk produk terurai tidak ada, maka permasalahan besar sampah akan muncul.

Begitu sebuah produk dinyatakan biodegradable dalam situasi dan kondisi tertentu, terdapat tantangan untuk meletakkan produk dalam kondisi itu dan dalam jumlah yang dapat diterima ekosistem tempat ia berada. Kecepatan mengurai yang berkelanjutan (sustainable) adalah sebanyak sebuah ekosistem mampu menyerap sebagai nutrient, dan tidak membahayakan.

Sabun, misalnya, adalah produk organik alami yang sifat dasarnya biodegradable. Air sabun dari satu rumah tangga akan terurai dengan mudah di belakang rumah, namun, jika air sabun itu masuk ke jalur air yang menuju solokan dimana air sabun dari sejuta lebih rumah tangga mengalir, akan muncul banyak gelombang air sabun di pantai karena terdapat lebih banyak sabun dibandingkan jumlah mikroorganisme untuk mengurainya.

Tumpahan minyak membahayakan bukan karena minyak tidak mampu terurai, tapi karena jumlah minyak jauh lebih banyak dibandingkan mikroorganisme yang tersedia untuk mengurainya. Telah diperhitungkan bahwa dibutuhkan 50 tahun bagi minyak yang tumpah tahun 1989 oleh Exxon Valdez untuk terurai. Danau dan sungai telah terkotori karena jumlah sampah yang dibuang ke dalamnya melebihi kemampuan tampungnya. Selain memikirkan kemampuan produk untuk terurai, kita juga perlu mempertimbangkan kapasitas sistem tempat produk tersebut dibuang.

Mereka yang pernah mencoba memberi label ‘biodegradable’ pada produk menemui dilema yang sama dengan ketika mendefinisikan ‘recyclable’—apakah produk dilabeli ‘biodegradable’ jika sifatnya sendiri mampu terurai, atau jika biasa dibuang dengan cara yang membantunya terurai? Misalnya, apakah kertas belanjaan diberi label ‘biodegradable’? Ia akan terurai jika disimpan di alam, namun tidak akan terurai di TPA yang memiliki kondisi yang tidak tepat.

 

READ
SINTETIK PIRETROID

Berikut ini lamanya waktu untuk berbagai produk terurai:

 

Lap Katun                                                                            1-5 bulan

 

Kertas                                                                                   2-5 bulan

 

Tali                                                                                         3-14 bulan

 

Kulit jeruk                                                                           6 bulan

 

Kaus kaki wool                                                                  1-5 tahun

 

Puntung rokok                                                                  1-12 tahun

 

Karton susu berlapis plastic                                         5 tahun

 

Sepatu kulit                                                                        25-40 tahun

 

Kain nilon                                                                            30-40 tahun

 

Plastic 6-pack holder Rings                                          450 tahun

 

Botol Kaca                                                                           1 juta tahun

 

Botol Plastik                                                                       Selamanya

 

Pestisida Kimia/Organik  Sintetik  Yang Lama Terurai Di Lingkungan

Pestisida kimia/insektisida organik sintetik sangat lama terurai di lingkungan.  Terobosan terbesar dalam pestisida kimia terjadi pada tahun 1874 ditemukan DDT (Dikloro Difenil Trikloroetana) sebagai insektisida oleh Zeindler seorang sarjana kimia dari Jerman.  Kemudian pada tahun tahun 1882 mulai menggunakan bubur bordeoux  (campuran Cu SO4) dan kapur) sebagai fungisida.  Kedua penemuan ini sangat efektif dalam membantu petani dalam mengatasi masalah serangan OPT, sehingga dimulailah produksi pestisida kimia secara besar-besaran.  Pada tahun 1930-an pestisida komersial mulai diperdagangkan di Amerika.

Pestisida nabati/Insektisida Botanik adalah pestisida biodegradable

Insektisida botanik/ pestisida nabati (pesnab) diambil secara langsung dari tanaman atau hasil tanaman.  Insektisida jenis ini termasuk insektisida yang paling tua dan banyak digunakan untuk pengendalian hama sebelum insektisida organik sintetik ditemukan.  Karena kesulitannya dalam mengadakan ekstraksi dan memperoleh bahan dasar (tanaman), maka penggunaannya semakin lama semakin berkurang.  saat ini jarang sekali kita temui petani menggunakan insektisida nabati/botanik.  Di desa ekstrak akar tuba (Derris) kadangkala disalahgunakan untuk membunuh ikan.

 

READ
Insektisida

 

Diterjemahkan dari (dengan sedikit penyesuaian): http://www.greengood.com/terms_to_know/biodegradable_and_compostable_definitions.htm, diakses 2 April 2019 pukul 21:00 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!