PENGENDALIAN RAYAP PADA TANAMAN SECARA KIMIAWI

PENGENDALIAN RAYAP PADA TANAMAN SECARA KIMIAWI

I. Pengendalian Rayap Secara Kimiawi Dapat Dilakukan Melalui Lima Teknik:

Ekosistem pertanian atau agroekosistem sangat berbeda dengan ekosistem permukiman sehingga sistem pengendalian rayap memerlukan pertimbangan yang tepat mengingat luasnya areal perlakuan, tingginya keanekaragaman organisme lain bukan sasaran, toksisitas termitisida terhadap tanaman, residu bukan sasaran, dan sebagainya.  Oleh karena itu, diperlukan pengamatan secara cermat untuk mengenali kondisi daerah perlakuan, jenis hama, gejala serangan , dan tingkat kerusakan.  Di samping itu juga pendugaan nilai kerugian ekonomis akibat serangan rayap berupa kehilangan hasil panen atau kematian tanaman harus ditentukan terlebih dahulu secara rinci sehingga tindakan pengendalian layak dilakukan baik secara teknis maupun ekonomis.

Masalah hama rayap pada tanaman di Indonesia baru mendapat  perhatian serius dalam satu dekade terakhir ini, terutama rayap Coptotermes spp, yang dianggap sebagai hama penting pada berbagai jenis tanaman perkebunan.  Kondisi ini menyebabkan tindakan pengendalian rayap juga masih relatif baru diterapkan sebatas pada cara-cara pengendalian secara mekanis dan secara kimiawi, sedangkan pengendalian hayati baru pada skala kecil dan masih pada taraf penelitian.

Tindakan pengendalian rayap yang menyerang tanaman secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi cara-cara yang mencoba;

  1. Mencegah rayap memperoleh jalan masuk ke dalam tanaman inang.
  2. Mengurangi jumlah rayap yang berada di lokasi tanaman.
  3. Membuat tanaman itu sendiri memiliki ketahanan terhadap serangan rayap.

Tindakan pengendalian rayap yang menyerang tanaman secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar yaitu:

  1. Teknik pengendalian kimia (chemical control)
  2. Teknik pengendalian nonkimia (nonchemical control)
  3. Teknik pengendalian terpadu (integrated termite management)

Pengendalian rayap pada tanaman secara kimiawi hingga saat ini masih mengandalkan penggunaan insektisida kimia (termitisida) dalam formulasi cair maupun butiran, pengendalian rayap nonkimiawi  dengan menggunakan musuh alami (pengendalian hayati) masih sangat terbatas untuk digunakan karena efektifitasnya dirasa masih sangat rendah.

Termitisida dari kelompok organoklorin seperti klordane, aldrin, dieldrin sangat ampuh dalam mengendalikan rayap pada tanaman.  Akan tetapi, penggunaan senyawa kimia ini memberikan perlindungan terhadap tanaman dilakukan sebelum adanya pelarangan terhadap penggunaan organoklorin sejak keluarnya Surat Keputusan Menteri  Pertanian No.14/Kpts/TP.270/92, dinyatakan bahwa peredaran dan penggunaan insektisida klordane dan dieldrin dicabut dari seluruh wilayah Indonesia sehingga Termitisida ini tidak lagi dapat dipergunakan.  Pada saat ini, beberapa jenis termitisida yang dapat digunakan adalah Permetrin, Oftanol, Chlorpyrifos, Endosulfan, Carbofuran.  Chlorpyrifos telah digunakan secara luas untuk perlindungan tanaman, dan memiliki keampuhan yang cukup baik. 

Jenis termitisida baru yaitu Fipronil dan Imidakloprid (nitro guanidine) banyak juga dipergunakan untuk mengendalikan rayap pada tanaman.  Fipronil memiliki mekanisme mengganggu sistem syaraf pusat khususnya gangguan pertukaran ion-ion klorida melalui Gamma Amino Butyric Acid (GABA). Kandungan GABA pada serangga lebih tinggi jika dibandingkan dengan mamalia, sehingga penggunaan insektisida ini diharapkan tidak berbahaya terhadap hewan ataupun manusia. Sementara itu, uji coba penggunaan termitisida imidakloprid juga menunjukkan hasil yang cukup baik dalam mengendalikan serangan rayap pada tanaman.  Termitisida ini pada dosis rendah dapat menyebabkan rayap menjadi rentan dan mudah terinfeksi oleh patogen (musuh alaminya baik jamur maupun nematoda), sehingga akan mengalami kemunduran pada koloninya.

Pengendalian rayap pada tanaman secara kimiawi dengan menggunakan termitisida dapat diaplikasikan dalam beberapa cara.  Umumnya dilakukan dengan cara penyemprotan (spraying) atau mencampurkan termitisida dalam bentuk serbuk atau granul dengan tanah.  Beberapa teknik lain yang dapat digunakan adalah melalui teknik penyemprotanm, penyuntikan (injection) pada bagian pohon atau sistem perakaran tanaman yang terserang atau dengan cara penyiraman (drenching) di sekitar sistem perakaran tanaman.  Jenis termitisida yang digunakan harus bersifat tidak beracun bagi tanaman dan tidak terdekomposisi dalam waktu yang lama pada organ tanaman terutama bagian tanaman yang dikonsumsi.

1. Penyemprotan batang tanaman

pengendalian rayap pada tanaman secara kimiawi
pengendalian rayap pada tanaman secara kimiawi (image credit: ISS Brunei)

Batang pohon yang terserang rayap dicirikan dengan adanya liang-liang kembara rayap pada permukaan kulit batang.  Apabila menunjukkan gejala tersebut, penyemprotan batang dapat diaplikasikan dengan menggunakan power sprayer atau alat penyemprot punggung.  Tindakan penyemprotan dapat membunuh rayap yang berada di permukaan batang dan merusak liang-liang kembaranya.  Namun, rayap yang bersarang di dalam batang tidak akan terlalu terpengaruh oleh perlakuan tersebut karena termitisida tidak mampu terpenetrasi ke dalam batang, kecuali jika termitisida yang digunakan sistemik yang mampu terdistribusi melalui sistem pengangkutan tanaman.

2.Pengendalian Rayap Pada Tanaman Secara Kimiawi Dengan Injeksi batang tanaman

Pengendalian rayap pada tanaman dapat dilakukan juga dengan melakukan injeksi termitisida ke dalam batang tanaman,

Injeksi dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan pengeboran batang dengan menggunakan bor kayu hingga mencapai sarang rayap atau liang kembara rayap di dalam batang.

3.Penyiraman (drenching) di Sekitar Sistem Perakaran Tanaman

Penyiraman termitisida di sekitar sistem perakaran bertujuan untuk mencegah masuknya rayap ke dalam tanaman inang.  Di sekitar sistem perakaran (0,5 m) dari batang pohon dibuat parit sedalam 15 cm, kemudian ke dalam parit disiramkan termitisida sebanyak 2,5 – 4 liter per meter.

4.Pengendalian Rayap Pada Tanaman Secara Kimiawi dengan Perlakuan Pada Lubang Tanam

Pada saat penanaman atau penggantian pohon yang sudah mati dan akan diganti dengan pohon baru, maka lubang tanam perlu mendapatkan perlakuan antirayap.  Perlakuan pada lubang tanam dapat dilakukan dengan menggunakan termitisida cair yang diaplikasikan dengan penyiraman atau dengan menggunakan termitisida dalam formulasi butiran yang dicampurkan dengan tanah.  Perlakuan ini berfungsi untuk mencegah masuknya rayap tanah ke dalam tanaman inang.

5. Pengendalian Rayap Pada Tanaman Secara Kimiawi dengan Pembasmian Sarang

Teknik lain dalam pengendalian rayap pada tanaman adalah dengan mengaplikasikan secara langsung pada sarang rayap yang berada di dalam tanah.  Untuk cara ini umumnya digunakan secara kimia yang mudah menguap (fumigan) atau dengan menggunakan termitisida cair yang disuntikkan ke sarang pusat.

 

pencarian terkait pest management:

READ
PENGGOLONGAN RAYAP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!