PENGENDALIAN KUMBANG TANDUK KELAPA (Oryctes rhinoceros) SECARA TERPADU

PENGENDALIAN KUMBANG TANDUK KELAPA (Oryctes rhinoceros) SECARA TERPADU

Pengendalian Kumbang tanduk kelapa Oryctes rhinoceros (L.) secara terpadu

Pengendalian kumbang tanduk kelapa (Oryctes rhinoceros (L.)) secara holistik, kumbang tanduk dapat menyerang tanaman kelapa di hotel, villa, resort dan yang umum sekali di perkebunan kelapa.  Kumbang ini banyak di wilayah tropis di dunia. Kumbang dewasa (Imago) dapat menyebabkan kerusakan yang luas dan memiliki arti ekonomi yang tinggi pada tanaman kelapa, baik yang masih muda atau yang sudah produktif.  Oryctes rhinoceros adalah salah satu serangga yang paling merusak di Asia dan Kepulauan Pasifik. Kumbang tanduk kelapa memakan daun dan menggali ke dalam mahkota, menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman (Giblin-Davis 2001).

Biologi kumbang tanduk kelapa (Oryctes rhinoceros)

kumbang tanduk kelapa
kumbang tanduk kelapa (Oryctes rhinoceros (L.))

Kumbang tanduk kelapa bermetamorfosis sempurna:telur-larva-pupa-imago.  Kumbang dewasa menyimpan telur pada tanaman yang mati,

tanaman yang membusuk, tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi, dan, kadang-kadang, struktur kayu (Manjeri et al. 2014). Telur menetas menjadi larva dalam waktu 8-12 hari  yang mulai memakan bahan organik di sekitarnya.

 

Larva Oryctes rhinoceros berbentuk C,  berwarna putih agak kekuningan, memiliki kaki (tungkai) di bagian depan dan kepala (caput)-nya berwarna coklat agak gelap dan memiliki tiga instar. Di berbagai daerah, larva memiliki sebutan yang beragam, ada yang menamainya gayas, embug, lundi, gendon, uret dll. Larva tumbuh hingga4,0 inci (10,0 cm).

larva kumbang tanduk kelapa
larva kumbang tanduk kelapa (image credit;Ratri wibawanti, ditjenbun)

ra

Usia larva secara keseluruhan berkisar antara 80-200 hari, larva akan tumbuh 16 kali lebih besar, sebelum berubah menjadi stadia pupa, perkembangannya didului dengan fase diam yang disebut pre-pupa selama 8-13 hari. Pupa berwarna coklat agak cerah dengan model hampir seperti serangga dewasa (kumbang). Setelah melalui masa pupa selama 17-30 hari, serangga ini berubah stadia menjadi serangga dewasa berupa kumbang dengan sayap depan mengeras (elytra). Kumbang bertahan hidup selama kurang lebih 6-7 bulan dengan memakan bagian tanaman hidup, seperti pucuk kelapa atau pucuk sawit.  

Periode perkembangan ini tergantung pada suhu dan kelembaban lingkungannya, jika kondisi tidak sesuai dengan syarat hidupnya, maka serangga dapat memperpendek siklus. Log (kayu gelondongan) lebih disukai untuk peletakan telur dan perkembangan stadia serangga selanjutnya.

Serangga menyerang semua bagian tanaman yang nampak/berada di atas permukaan tanah, baik batang, pelepah, maupun pucuk (titik tumbuh). Aktifitas makan tersebut menimbulkan lubang gerekan pada batang, pelepah dan daun yang membentuk menyerupai huruf “V” atau seperti kipas.

Tanaman Inang Kumbang tanduk kelapa

Seperti banyak kumbang, imago dan larva memiliki preferensi makan yang berbeda. Dalam kasus kumbang badak Oryctes, kerusakan pada tanaman disebabkan oleh kumbang dewasa (terutama dewasa muda) dan bukan larva, yang memakan bahan yang sudah membusuk (Giblin-Davis 2001).

Larva hidup dalam material yang membusuk termasuk: Kelapa santan Cocos nucifera, kelapa sawit (Elaeis guineensis)

Kumbang dewasa adalah hama utama dari Cocos nucifera (kelapa santan) dan Elaeis guineensis (kelapa sawit Afrika) (Giblin-Davis 2001) tetapi merupakan hama minor dari banyak palem dan spesies tanaman lainnya. Dengan memakan daun sehat, kumbang tanduk kelapa Oryctes rhinoceros menyebabkan kerusakan fisik, yang dapat menghambat pertumbuhan dan menyebabkan infeksi sekunder dari bakteri atau jamur (Hinckley 1973).

Pengendalian kumbang tanduk kelapa Oryctes rhinoceros

Pengendalian secara mekanis, yaitu dengan melakukan kutip/pengambilan secara manual kumbang yang menyerang/yang ditemukan ditemukan di pokok (TBM (tanaman belum menghasilkan)/pokok rendah) menggunakan alat kait dari besi, termasuk pengambilan larvanya.

Sanitasi dan penghilangan sarang (harborage removal).Pengendalian kumbang tanduk kelapa (Oryctes rhinoceros)  ini tidak bisa terlepas dari pengelolaan tempat perkembangbiakannya (breeding site). Pengendalian yang mengabaikan pengelolaan/penghilangan sarang (eradikasi) breeding site akan tidak efektif dan efisien, kerusakan tanaman tetap akan terjadi. Breeding site pada dasarnya adalah tumpukan material organik yang akan membusuk, dapat berupa tumpukan kayu, pupuk kandang, sampah domestik (rumah tangga) dan terutama material dari bagian-bagian tanaman sawit, seperti pokok sawit mati (log yang masih berdiri maupun yang sudah tumbang), sampah TBS, hasil ketrek buah, tumpukan janjang kosong, kentosan, limbah pabrik (fiber, cangkang), sisa cuci parit di lahan gambut dll. Maka, penumpukan janjang kosong tidak boleh lebih dari satu lapis dan pokok mati yang masih berdiri harus segera ditumbang dan dicincang (chipping) lalu diserak, tidak boleh ditumpuk kembali agar cepat lapuk dan cepat mengering. Apabila cara tersebut tidak memungkinkan dilakukan, maka tetap harus dilakukan pengendalian lainnya, seperti aplikasi Cendawan entomopathogenik.

Penggunaan material penolak serangga (Repellent). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan Naphthalene (kapur barus) memiliki efektifitas yang sangat baik, kecuali apabila intensitas serangan sudah tinggi (Chung, 1991). Hasil penelitian Pardede dan Utomo (1992) serta Singh (1987) menyatakan bahwa perlakuan Naphtalene dapat menekan serangan kumbang tanduk masing-masing secara berurutan sebesar 97% dan 95%. Jika dibandingkan dengan pengendalian kimiawi, pengendalian dengan cara ini jauh lebih baik, lebih menguntungkan dan lebih ramah lingkungan. Material kapur barus dan plastik cukup dibeli dengan harga sekitar Rp. 1 jt untuk setiap blok dan dapat bertahan selama 3-4 bulan, sedangkan karbofuran atau karbosulfan 5% perlu 40 kg/blok (Rp. 17.000/kg) dan harus dirotasi tiap 2 minggu (tidak termasuk jika curah hujan tinggi).

Teknis aplikasi repellent, naphtalen pada tanaman kelapa sawit muda

Pengendalian biologis, yaitu pengendalian dengan memanfaatkan organisme atau menggunakan material yang berbahan aktif organisme musuh alaminya. Musuh alami yang sudah sering dimanfaatkan antara lain adalah Baculovirus oryctes (virus entomopatogen), Metharizium sp. dan Beauveria bassiana (cendawan entomopathogenik).

Pengendalian kumbang tanduk kelapa secara kimia, yaitu pengendalian dengan menggunakan bahan kimia/pestisida. Insektisida formulasi larutan diaplikasikan dengan penyemprotan dan formulasi granular (karbofuran & karbosulfan) dengan cara penaburan pada ketiak daun (pucuk daun). Penaburan atau penyemprotan insektisida dilakukan pada semua pokok di dalam blok yang terserang dengan ambang ekonomi 10% atau telah ditemukan 3-5 ekor/ha (IRHO, 1991). Cara ini lebih cocok digunakan untuk pengendalian pada pokok rendah (muda/TBM), tidak efisien untuk pokok TM.

Monitoring kumbang tanduk kelapa Oryctes rhinoceros

Penggunaan perangkap feromon (Attractant). Metode pengendalian ini cocok dilakukan pada tanaman menghasilkan (TM) yang pokoknya sudah berumur (tinggi). Feromon merupakan substansi kimia yang dikeluarkan oleh individu tertentu sehingga mampu menyebabkan reaksi dari individu lain yang sejenis (CPC, 2003). Bau atau aroma dari substansi kimia tersebut akan menarik serangga untuk mendatangi perangkap. Pheromon Trap dipasang dengan radius coverage seluas ±2 hektar dan harus digantung minimal 2 meter di atas permukaan tanah.

Pemantauan melalui pengamatan berkala baik intensitas serangan maupun jenis breeding site. Hasil evaluasi dan identifikasi ini akan dijadikan tolak ukur dalam pengendalian.

pencarian terkait pest management:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!