PENGENDALIAN HAMA GUDANG

Pengendalian Hama Gudang Terpadu

Pencegahan merupakan faktor utama pada pengelolaan hama gudang, yang meliputi kegiatan praktik panen yang baik seperti membersihkan dan mengeringkan biji-bijian sehingga komoditas bebas dari hama ketika disimpan, penggunaan penghalang fisik atau pembungkusan komoditas yang baik sehingga hama tidak dapat menyerang komoditas, menjaga kebersihan gudang sehingga tidak ada sumber infestasi hama, mengatur sirkulasi udara di gudang sehingga kelembaban tidak tinggi dan sebagainya.  Pencegahan haruslah merupakan porsi utama PHT, yaitu 75% dari keseluruhan PHT, sedangkan monitoring dan pengendalian dengan bahan kimia hanya menempati porsi kecil, yaitu masing-masing 20% dan 5% dari keseluruhan kegiatan PHT.

1. Perlakuan dingin

Perlakuan dingin dapat merupakan salah satu teknik dalam PHT di tempat penyimpanan.  Temperatur di bawah 10C dapat menyebabkan serangga hama terhenti perkembangannya dan bahkan dalam waktu yang lama akan menyebabkan kematian serangga hama.  Perlakuan dengan temperatur di bawah 00C dalam beberapa hari akan dapat membunuh berbagai jenis serangga hama di berbagai komoditas pertanian.

Kelebihan teknik ini adalah tidak meninggalkan residu, diterima oleh konsumen, aman bagi pekerja serta mudah dilakukan.  Kekurangan teknik ini adalah perlu waktu perlakuan lebih lama, relatif mahal, serta belum tentu cocok untuk beberapa komoditas yang tidak tahan suhu dingin.

3. Perlakuan panas

Perlakuan panas sering dilakukan untuk mematikan serangga hama karena dehidrasi atau kerusakan protein di tubuhnya.  Beberapa jenis serangga hama dapat dibunuh dengan perlakuan panas pada temperatur 50C.  Lama perlakuan panas bergantung pada jenis komoditasnya, bervariasi dari beberapa menit sampai beberapa hari.  Selama perlakuan temperatur dan komoditas perlu dimonitor agar diperoleh hasil optimum, yaitu serangga hama mati dan tidak terjadi kerukan pada komoditas.

Kelebihan teknik perlakuan panas adalah cepat, tidak terdapat residu pada komoditas, efektif untuk desinfestasi, aman untuk konsumen dan pekerja.  Kekurangan teknik ini adalah tidak cocok untuk beberapa jenis komoditas, tidak sesuai untuk komoditas dengan jumlah yang sangat besar (lebih dari 500 ton), dan memerlukan energi yang besar.

4. Debu lembam (inert dusts)

Teknik penggunaan debu lembam pada awalnya menggunakan abu gosok, pasir dan tanah lempung untuk melindungi biji-bijian di tempat penyimpanan.  Dalam perkembangannya berbagai jenis debu lain digunakan dan hasilnya lebih efektif, seperti tanah diatom (diatomaceous earth), bubuk silika, atau campuran keduanya.  Debu lembam dapat membunuh serangga karena sifatnya yang abrasif yang dapat merusak struktur kulit (kutikula) serangga sehingga terjadi penguapan air dari tubuh serangga dan akhirnya dehidrasi dan mati.

Kelebihan alat ini adalah tidak memerlukan alat khusus , tidak beracun, mudah dilakukan, dan tidak mempengaruhi kualitas biji-bijian yang disimpan.  Kekurangannya adalah hanya dapat diaplikasikan pada jenis biji-bijian tertentu saja, perlu waktu relatif lama, apabila komoditas akan dikonsumsi maka debu harus dibersihkan dahulu, serta dapat menyebabkan abrasi pada alat.

 

READ
Ngengat Ephestia cautella
5. Atmosfer terkendali dan termodifikasi

Prinsip teknik ini adalah mengurangi ketersediaan oksigen yang diperlukan serangga sampai pada tingkat yang serangga tidak dapat makan dan bereproduksi.  Pada keadaan normal udara mengandung 21% oksigen, akan tetapi apabila kandungan oksigen hanya 1% maka serangga akan mati dalam beberapa hari.  Berbagai macam cara dalam mengatur atmosfer ini dilakukan seperti penyimpanan hermetik yang menggunakan teknik kedap udara  pada komoditas sehingga oksigen akan makin menipis dan serangga akan mati serta perlakuan dengan gas nitrogen dan karbon dioksida untuk menggantikan oksigen.

Kelebihan teknik ini adalah efektif untuk mengendalikan berbagai hama termasuk tikus,  tidak meninggalkan residu, dan dapat melindungi komoditas dalam waktu relatif lama.  Kekurangannya adalah memerlukan keadaan kedap udara dan tidak dapat membunuh cendawan patogen.

6. Pestisida kontak

Aplikasi pestisida sering dilakukan sebagai perlakuan tambahan dari fumigasi, khususnya pada bagian atau tempat yang tidak terfumigasi seperti tembok gudang, celahan dan retakan, alat-alat transportasi, dll.  Tidak seperti fumigan yang dapat menembus karung atau tumpukan komoditas, pestisida kontak memberikan perlindungan persisten terhadap infestasi hama dalam waktu yang relatif lama.  Beberapa jenis yang umum digunakan di gudang adalah kelompok organofosfat, piretroid, dan pengatur tumbuh serangga (insect growth regulators).  Kelebihan teknik ini adalah memberikan perlindungan dalam waktu yang relatif lama, memerlukan sedikit keterampilan dibandingkan fumigasi dengan metil bromida, tidak perlu keadaan kedap udara, dan memerlukan waktu perlakuan relatih pendek.  Kekurangannya adalah hanya untuk komoditas yang terdaftar dan dapat menyebabkan resistensi pada serangga hama, meninggalkan residu, dan dapat beracun bagi manusia dan hewan.

7. Fosfin dan fumigan lain

Fumigan adalah bahan kimia beracun yang dapat membunuh serangga dalam bentuk gas.  Namun fumigan juga beracun untuk organisme lain termasuk hewan dan manusia.  Fumigan biasanya memiliki bobot molekul yang rendah dan dapat menembus komoditas dan bangunan mencapai tempat infestasi hama, karena sifatnya yang sangat beracun, penjualan fumigan diatur dengan ketat dan aplikasinya harus dilakukan oleh teknisi yang terlatih dan bersertifikat.  Fumigan merupakan bahan yang sering dipakai untuk keperluan karantina dan prapengapalan.

Dalam pelaksanaan fumigasi, komoditas harus tertutup dan kedap udara,  Karena fumigasi hanya membunuh hama pada saat perlakuan dan tidak memberikan perlindungan pada komoditas dalam waktu yang lama, cara perlindungan yang lain diperlukan.

Fosfin merupakan fumigan selain   metil bromida yang terdaftar di berbagai negara untuk deinfestasi komoditas tahan lama.  Umumnya fosfin digunakan dalam bentuk formulasi padat seperti alumunium fosfida.  Suhu dan kelembaban tertentu diperlukan agar fosfin dapat menguap.  Fosfin dalam bentuk formulasi magnesium fosfida dapat melepaskan fosfin dalam waktu lebih cepat, dalam perkembangannya fosfin ini diformulasikan juga dalam bentuk fosfin cair, fosfin ini disimpan dalam silinder bertekanan dengan konsentrasi 2%, di Indonesia pernah dicoba penggunaan fosfin dalam formulasi gas cair ini yaitu EcoFume, hasil percobaan ini cukup baik, namun dirasa teknik ini agak sulit dilakukan karena membutuhkan alat-alat tertentu, relatif mahal, dan ketersediaan terbatas, oleh karena itu penggunaan fosfin dalam formulasi padat merupakan pilihan yang paling baik untuk saat ini.  Selain mudah didapatkan juga mudah diaplikasikan di gudang penyimpanan.

Fumigan lainnya yang menjadi prospek di masa depan adalah sulfuril fluorida (F2SO3).

Kelebihan perlakuan dengan fumigasi adalah dapat menembus komoditas untuk mencapai tempat infestasi hama, selain itu dapat fumigasi dapat membunuh berbagai stadia perkembangan hama mulai dari telur, larva, pupa dan imago.  Kekurangan fumigasi adalah tidak memberikan perlindungan terhadap komiditas atau tidak mencegah reinfestasi hama, sangat beracun bagi hewan dan manusia, serta dapat meninggalkan residu yang tidak diinginkan.

 

READ
Ngengat Tembakau (Ephestia elutella)

referensi: Hidayat, purnama. 2009. Menuju Penghapusan Penggunaan Metil Bromida di Pergudangan Indonesia. Modul Pengelolaan Hama Gudang Terpadu. SEAMEO BIOTROP. Bogor

 

pencarian terkait pest management:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!