Lalat Hijau Calliphoridae

Lalat Hijau Calliphoridae

Lalat hijau termasuk ke dalam famili Calliphoridae.  Lalat ini terdiri atas banyak jenis, umumnya berukuran dari sedang sampai besar, dengan warna hijau, abu-abu, perak mengkilat atau abdomen gelap.  Biasanya lalat ini berkembangbiak di bahan yang cair atau semi cair yang berasal dari hewan, termasuk daging, ikan, daging busuk, bangkai, sampah penyembelihan, sampah ikan, sampah dan tanah yang mengandung kotoran hewan.  Lalat ini jarang berkembang biak di tempat kering atau bahan buah-buahan.  Beberapa jenis juga berkembang biak di tinja dan sampah hewan.  Lainnya bertelur pada luka hewan dan manusia.

Di Indonesia, lalat hijau yang umum di daerah pemukiman adalah Chrysomya megacephala.  Yang jantan berukuran panjang 8 mm, mempunyai mata merah besar.  Ketika populasinya tinggi, lalat ini akan memasuki dapur, meskipun tidak sesering lalat rumah.  Lalat ini banyak terlihat di pasar ikan dan daging yang berdekatan dengan kakus.  Lalat ini dilaporkan juga membawa telur cacing

Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing kait pada bagian luar  tubuhnya dan pada lambung lalat.

Jenis lalat hijau lainnya yang juga ditemukan di Indonesia adalah Chrysomyia bezziana, meskipun sangat jarang di daerah permukiman.  Lalat ini banyak dijumpai di daerah ternak yang dilepaskan di padang gembalaan.  Jenis lalat ini akan bertelur pada luka atau jaringan kulit yang sakit dan menyebabkan miasis obligat pada manusia dan hewan.

Lalat hijau, penamaan tersebut sebetulnya sangat identik dengan karakteristik yang dimiliki oleh lalat tersebut yaitu tubuh berwarna hijau.

Lalat Hijau calliphoridae
Lalat Hijau Calliphoridae

Fase Telur

  • Telur selalu diletakkan pada daging atau bangkai binatang
  • Kadang-kadang diletakkan pada sayuran yang membusuk apabila tidak terdapat daging dan bangkai.
  • Berwarna krem keputihan
  • Panjang 1.5 mm.
  • Jumlah telur yang diletakkan mencapai 600 butir.
  • Telur menetas pada umur 18–48 jam pada suhu 18–20C

Fase Larva

  • Larva yang baru terbentuk, dalam waktu singkat makan pada permukaan material yang membusuk kemudian membuat lubang pada material.
  • Larva hidup/tinggal pada material.
  • Periode larva pada suhu 18–20C mencapai 8–11 hari
  • Panjang larva dapat mencapai 18 mm.
  • Menjelang masa pupa, larva membuat lubang ke dalam tanah dengan kedalaman 25-150 mm

Fase Pupa

  • Menjelang pembentukan pupa, larva akan membuat lubang di dalam tanah.
  • Periode pupa pada suhu 18–20oC dapat berlangsung selama 9-12 hari.
  • Pupa berwarna merah kecoklatan.
  • Berbentuk silinder

Fase Dewasa

  • Mampu menghasilkan keturunan sebanyak 30.000 selama 1 minggu.
  • Berwarna biru metalik atau hijau.
  • Panjang tubuh 9–13 mm.

Siklus Hidup Lalat Hijau

  • Periode dewasa dapat mencapai 35 hari.
  • Telur menetas pada umur 18–48 jam pada suhu 18–20oC.
  • Periode larva pada suhu 18–20oC mencapai 8–11 hari.
  • Periode pupa pada suhu 18–20oC dapat berlangsung selama 9-12 hari.
  • Siklus hidup dari telur sampai menjadi dewasa dapat berlangsung selama 15 hari atau lebih.

Habitat Lalat Hijau

Lalat hijau umumnya  banyak ditemukan pada tempat-tempat seperti :

  • Rumah potong
  • Pabrik pengolahan daging
  • Tempat-tempat pembuangan sampah
  • Bangkai binatang

Metode Pengendalian Secara Nonkimiawi

  1. Sanitasi

Hal  terpenting diperhatikan  dalam pengendalian lalat adalah faktor sanitasi. Sanitasi yang buruk akan menyebabkan tetap tersedianya makanan bagi lalat. Lalat tertarik pada bau makanan dan sampah.

Beberapa tindakan pemeliharaan sanitasi yang baik antara lain:

  • Lantai dan saluran air agar dibersihkan secara teratur.
  • Hindari adanya sisa makanan/sampah yang tertinggal pada retakan pada lantai.
  • Tempat-tempat saluran air, tempat sampah dibersihkan secara teratur.
  • Hindari adanya retakan pada lantai tempat sampah.
  • Sampah organik dibuang dalam kantong plastik yang tertutup rapat.
  • Hindari adanya ceceran sampah di sekitar bak penampungan sampah.
  • Bak penampungan sampah agar selalu dalam keadaan tertutup.
  • Kotoran hewan harus dibersihkan supaya tidak dijadikan tempat berkembang biak.      

 2. Eksklusi

Eksklusi adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mencegah adanya re-infestasi lalat dengan cara menutup jalur-jalur yang dapat dilalui oleh lalat untuk masuk ke dalam suatu area, misalnya:

  • Pintu dan jendela selalu dalam keadaan tertutup.
  • Pemasangan screen/kawat kasa pada lubang-lubang ventilasi udara, pintu dan jendela.
  • Lubang-lubang yang terdapat disekitar pintu, jendela dan dinding agar ditutup.
  • Pemasangan air curtain atau plastic curtain pada pintu-pintu.                                                                                                                                                                        3. Penggunaan Perangkap (Traps)

Salah satu jenis perangkap yang banyak digunakan adalah Insect Light Traps (ILTs)/lampu perangkap. Penggunaan lampu perangkap banyak   digunakan pada hotel, restoran, rumah  sakit,  gedung  perkantoran, industri    pengolahan makanan  dan gudang-gudang.

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menempatkan ILTs adalah sebagai berikut:

  • Jangan ditempatkan pada posisi yang searah dengan pintu.
  • Cahaya lampu tidak terlihat dari area luar.
  • Jarak dari pintu kurang lebih 4–5 meter.
  • Dipasang pada ketinggian 0.5–1.5 meter.
  • Berfungsi untuk menarik/mengendalikan lalat yang berada di dalam bangunan.

Jenis perangkap lain yang dapat digunakan adalah glue trap (perangkap lem). Dilakukan dengan cara mengoleskan lem pada suatu wadah yang sering digunakan oleh lalat sebagai tempat beristirahat. Dapt terbuat dari wadah buatan seperti lidi-lidi, tali dll yang diolesi dengan lem kemudian dipasang ditempat-tempat tertentu misalnya di taman-taman dekat tempat pembuangan sampah.

Metode Pengendalian Secara Kimiawi

1.Space treatment

Dilakukan untuk mengendalikan serangga yang aktif terbang di dalam ruangan. Jenis  bahan kimia  yang  digunakan adalah non residual dan alat yang digunakan adalah Cold fogger.

Apabila pengendalian dilakukan pada malam hari, matikan seluruh lampu yang ada di ruangan tersebut. Pada salah satu sudut ruangan, nyalakan lampu dan biarkan beberapa saat sampai serangga  tertarik menuju lampu yang menyala. Lakukan space treatment, dengan demikian hasilnya akan lebih maksimal dan akan menekan jumlah pestisida yang digunakan. Untuk ruangan yang tergolong besar, nyalakan lampu pada beberapa tempat.

2. Residual treatment

Residual treatment diarahkan pada tempat-tempat di sekitar pintu, jendela dan tempat lain yang menjadi tempat lalat beristirahat. Biasanya  lalat  akan  hinggap  di dinding  sekitar  pintu  dan jendela sebelum terbang  masuk ke dalam ruangan. Jenis bahan kimia yang diaplikasikan adalah yang mempunyai daya residual dan peralatan yang digunakan adalah hand sprayer.

3. Baiting

Treatment ini diarahkan untuk mengendalikan serangga dewasa. Bahan kimia yang digunakan adalah yang mempunyai daya attractan (menarik) bagi serangga. Diletakkan dengan menggunakan wadah pada suatu area tertentu. Umpan harus terhindar dari air hujan dan panas matahari.

                                               

pencarian terkait pest management:

READ
Lalat rumah (Musca domestica)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!