BIOLOGI TIKUS DAN PERILAKUNYA

BIOLOGI TIKUS DAN PERILAKUNYA

Klasifikasi Tikus

sebelum membahas tentang biologi tikus secara keseluruhan, kita lihat klasifikasi tikus, sebagai berikut:

Dunia : Animalia

Filum : Chordata

Subfilum : Vertebrata (Craniata)

Kelas : Mammalia

Subkelas : Theria

Infrakelas : Eutheria

Ordo : Rodentia

Subordo : Myomorpha

Famili : Muridae

Subfamili : Murinae

Genus : Bandicota, Rattus, dan Mus

Ordo Rodentia di dunia

Kelas Mamalia (5 000 spesies)

Ordo Rodentia 40% (2 000 spesies)

Tikus di Indonesia (150 spesies), 9 spesies menjadi hama

  1. Bandicota indica (wirok besar)
  2. Bandicota bengalensis (wirok kecil)
  3. Rattus norvegicus (tikus riul)
  4. Rattus rattus diardii (tikus rumah)
  5. Rattus tiomanicus (tikus pohon)
  6. Rattus argentiventer (tikus sawah)
  7. Rattus exulans (tikus ladang)
  8. Mus musculus (mencit rumah)
  9. Mus caroli (mencit ladang)

Catatan Penting

R. norvegicus, R. rattus, M. musculus bersifat kosmopolit

 1. Terestrial > menggali tanah

R.argen., R. norve., B. indica., B. bengal., M. caroli

 

2. Arboreal > memanjat

R.rattus., R. tioman., R. exulans., M. musculus

Kemampuan mengerat: tidak ada penyempitan di pangkal gigi, gigi seri tumbuh terus, Ada celah; diastema

Kekerabatan tikus dengan hewan lainnya

Kerabat tikus: Bajing, landak, marmut, hamster, kelinci

Bukan kerabat tikus: Cecurut, tupai, hedgehog (Ordo Insectivora)

Perbedaan:

Gigi

Anatomi tengkorak

Panjang ekor

Kelenjar anal

Bentuk moncong

Jenis pakan

Keadaan kotoran

Biologi tikus: Pakan Tikus

biologi tikus
biologi tikus

Biologi tikus sebagai hewan omnivora (pemakan segala) biasanya mau mengkonsumsi semua makanan yang dapat dimakan oleh manusia, baik yang berasal dari tetumbuhan (nabati), maupun yang berasal dari hewan. Selain itu, tikus akan memilih pakan (favorit) yang berkadar gizi seimbang dari berbagai macam pakan yang ada. Walaupun demikian tikus cenderung untuk memilih biji-bijian (serealia) seperti padi, jagung, dan gandum. Selain serealia, tikus juga dapat memakan kacang-kacangan, umbi-umbian, daging, ikan, telur, buah-buahan dan sayur-sayuran. Tikus juga dapat mengubah pola makannya dengan mengkonsumsi serangga dan hewan invertebrata lainnya, walaupun hal itu dilakukan untuk jangka waktu yang singkat saja atau lebih tepatnya untuk melangkapi sumber protein di dalam dietnya.

Kebutuhan pakan bagi seekor tikus setiap harinya kurang lebih sebanyak 10% dari bobot tubuhnya, jika pakan tersebut berupa pakan kering atau sekitar 10 g/hari dengan rerata bobot tubuh 100 g. Hal ini dapat ditingkatkan samapai 15% dari bobit tubuhnhya jika pakan yang dikonsumsi berupa pakan basah, sedangkan bagi mencit, kebuthan pakan setiap harinya kira-kira seberasa 20% dari bibot tubuhnya atau sekitar 3-4 g/hari dengan rerata bobiot tubh 15-20 g.

Air sebagai sumber minuman dapat diambil dari air bebas atau dapat pula diperoleh dari pakan yang banyak mengandung air. Kebutuhan air bagi tikus rumah sekitar 15-30 ml/hari, untuk tikus riul dapat mencapai 60 ml/hari tergantung dari suhu lingkungan, aktivitas, umur dan jenis makanan. Kebutuhan air berkurang jika pakan yang dikonsumisi sudah banyak mengandung air. Kebutuhan minum bagi mencit dalah 3 ml/hari.

Perilaku Makan Tikus

Dalam proses mengenali dan mengambil pakan yang ditemukan dan disediakan oleh manusia, tikus dan mencit tidak langsung memakan seluruhnya, tetapi mencicipi terlebih dahulu sebagian kecil pakan, untuk melihat reaksi yang terjadi di dalam tubuhnya. Jika setelah beberapa saat tidak ada reaksi yang membahayakan bagi dirinya, maka tikus akan memakan dalam jumlah yang lebih banyak, demikian seterusnya sampai pakan tesebut habis.

Dengan adanya perilaku pencicipan makanan ini, maka pengelolaan tikus secara kimiawi dengan menggunakan racun akut (berkerja dengan cepat) perlu diberikan umpan pendahuluan (prebaiting) terlebih dahulu yaitu umpan yang tidak mengandung racun. Hal ini bertujuan untuk mengundang dan membiasakan tikus dengan umpan yang diberikan sehingga pada saat diberikan umpan yang mengandung racun (akut), tikus tersebut mau makan dengan jumlah yang cukup sampai pada dosis mematikan (lethal dose). Umpan pendahuluan ini tidak perlu diberikan jika jenis racun yang digunakan adalah racun dari golongan racun kronis atau antikoagulan yang bekerja dengan lambat.

Sifat tikus yang mudah curiga atau berhati-hati terhadap setiap benda yang baru ditemuinya, termasuk pakan, disebut dengan neofobia. Adapun sifat tikus yang enggan memakan umpan beracun yang diberikan karena tidak didahului dengan umpan pendahuluan disebut dengan jera umpan (baitshyness) atau jera racun (poisonshyness). Selain itu, tikus memiliki sifat menyimpan/menimbun pakan dan bahan lain di dalam sarangnya (hoarding).

Dalam biologi tikus, anak tikus dan mencit mulai mengenal berbagai rasa pakan dari air susu induknya dan bau atau rasa sisa pakan dari wajah dan tubuh induknya. Setelah disapih, tikus muda akan mengikuti tikus yang lebih tua untuk belajar mengenal jenis pakan yang dapat diterima. Sekaligus mengenal jenis pakan yang membahayakan dirinya. Mencit memiliki sifat erratic nibblers yaitu menggigit dan mengunyah pakan secara tidak menentu dibandingkan tikus yang lebih teratur.

Aktivitas tikus dan mencit dalam mencari makan memiliki dua puncak, yaitu sekitar 1-2 jam setelah matahari terbenam dan sekitar 1-2 jam sebelum terbit fajar. Hal itu berhubungan dengan bentuk pertahanan diri, karena sebagian besar musuh alami tikus (utamanya manusia) aktif di siang hari. Meskipun demikian, aktivitas ini dapat bergeser tergantung dari puncak ketersediaan pakan. Misalnya di kadang kuda, tikus aktif makan pada jam 3-5 sore berkaitan dengan ketersediaan kotoran kuda.

Perilaku Sosial

Perilaku sosial tikus mencakup menjaga teritorial (wilayah kekuasaan) dan hierarki (tingkatan sosial). Tikus sawah mempunyai tingkat hierarki yang kurang nyata dibandingkan dengan tikus rumah, karena kehidupan sosialnya yang lebih tinggi yaitu sebagai satwa liar yang cenderung hidup berkelompok.

Pada sumberdaya pakan dan sarang yang melimpah beberapa jenis tikus dapat hidup bersama dalam satu wilayah yang sama. Meskipun demikian, tikus riul dan tikus rumah memisahkan diri dengan struktur bangunan sebagai faktor pembatas. Tikus riul menempati wilayah bawah dengan menggali tanah, sementara tikus rumah menempati wilayah atas dengan memanjat menuju langit-langit.

Seekor tikus dominan, yang biasanya dicirikan dengan ukuran tubuh yang paling besar mempunyai kedudukan yang paling tinggi pada keadaan kepadatan populasi rendah sampai sedang, baik dalam hal mempertahankan sarang, jalur jalan, serta tikus betina yang hidup bersamanya. Pada saat populasi meningkat, kompetisi sosial memaksa tikus jantan lain yang berkedudukan lebih rendah untuk segera keluar dari populasi tersebut. Dengan demikian, tikus jantan tersebut harus mencari areal baru dan bersama-sama dengan tikus betina lainnya membentuk populasi yang baru.

Tikus betina yang sedang bunting tua atau menyusui anaknya mempunyai perilaku yang sama dengan tikus jantan dalam mempertahankan sarangnya. Perilaku tikus di dalam mempertahankan wilayah kekuasaannya akan menghasilkan penyebaran populasi sehingga pemanfaatan ruang lingkup dan sumberdaya menjadi efektif dan efisien.

Biologi tikus: Reproduksi

Tikus merupakan hewan yang mempunyai kemampuan reproduksi yang sangat tinggi, terutama bila dibandingkan dengan hewan menyusui lainnya. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Matang seksual yang cepat yaitu antara 2-3 bulan.
2. Masa bunting yang singkat yaitu antara 21-23 hari.
3. Masa menyusui yang singkat yaitu selama 28 hari.
4. Terjadi post partum oestrus yaitu timbulnya birahi kembali segera (24-48 jam) setelah    melahirkan.
5. Dapat melahirkan anak sepanjang tahun tanpa mengenal musim yang dikenal sebagai hewan poliestrus. Selama setahun seekor induk tikus mampu melahirkan 3 sampai 6 kali, maksimal 12 kali.
6. Melahirkan keturunan dalam jumlah yang banyak yaitu berkisar 6-12 ekor. Untuk mencit, rerata jumlah anak 6 ekor dengan kisaran 2-12 ekor.

Kelahiran anak dalam jumlah yang besar dan dengan frekuensi yang tinggi ini ditunjang oleh kondisi iklim dan cuaca yang optimal (utamanya suhu), pakan yang melimpah, sarang atau tempat tinggal yang memadai (baik), umur dan kondisi induk yang optimal.

Dengan ciri-ciri reproduksi tersebut di atas, maka tikus mempunyai potensi untuk meningkatkan populasinya dengan cepat atau mengembalikan tingkat populasinya ke keadaan semula segera setelah jumlahnya menurun akibat pengelolaan (peracunan, penangkapan, perburuan) oleh manusia. Pola reproduksi ini akan menunjukkan perbedaan dari tahun ke tahun, walaupun pada populasi yang sama. Hal ini sangat bergantung pada keadaan iklim atau cuaca, jumlah pakan dan sarang, serta pengaruh musuh alaminya, termasuk tindakan manusia.

Biologi tikus: Perilaku dalam Reproduksi

Tikus jantan dewasa biasanya selalu berada dalam kondisi siap kawin setiap saat sepanjang tahun (di negara tropis), meskipun testisnya dapat dimasukkan kembali ke rongga perut selama musim dingin (di negara sub tropis). Pada musim dingin, tikus jantan dewasa biasanya sedang dalam keadaan tidak subur. Namun pada cuaca yang sangat dingin pun, perkawinan pada tikus masih dapat terjadi walaupun masih diragukan apakah keturunannya dapat lahir dengan selamat atau tidak, kecuali jika anak-anak tikus tersebut dilahirkan di dalam rumah.

Dalam memelihara anak-anak di awal kehidupannya, tikus betina biasanya membuat sarang di semak-semak, di tajuk pohon, di dalam tanah, atau di dalam rumah yang keadaannya tidak teratur (berantakan). Anak-anak tikus ini akan disusui oleh induknya sampai umur 4 minggu (disapih).

Anak tikus yang baru dilahirkan berwarna merah jambu, tidak berambut (gundul), dengan mata dan telinga yang masih menutup. Dengan keadaan demikian, biasanya anak tikus akan memberikan respon terutama pada sentuhan dan panas dari tubuh induknya. Bobot anak tikus pada saat dilahirkan adalah 4,5-6,5 gram, sedangkan mencit 1,5 gram. Telinga membuka pada umur 3-6 hari, mata membuka umur 14-16 hari, gigi seri muncul pada umur 10-11.

Rerata lama hidup ekologis tikus adalah satu tahun, sementara lama hidup fisiologis dapat mencapai tiga tahun. Lama hidup ekologis adalah kenyataan yang terjadi di lapang, dengan kematian yang terjadi karena pengaruh faktor luar tubuh tikus seperti predator, patogen, kanibalisme, perangkap, dan peracunan oleh manusia. Sementara lama hidup fisiologisnya adalah keadaan tikus mati karena usia tua dengan pengaruh faktor dari dalam tubuh tikus sendiri yaitu berkurangnya fungsi sel, jaringan dan organ.

pencarian terkait pest management:

READ
KUMBANG KOPRA Necrobia rufipes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!