Biologi rayap dan perilakunya

Biologi rayap dan perilakunya

Pendahuluan biologi rayap

Sebelum membahas mengenai biologi rayap, terlebih dahulu sejenak kita kembali ke ratusan tahun yang lalu, terkait sejarah keberadaan rayap itu sendiri. Rayap atau anai-anai, rinyuh (dalam bahasa Sunda), kehadiran rayap di biosfer bumi merupakan hal yang menarik untuk ditelusuri. Rayap telah menghuni bumi sejak lebih dari ratusan juta tahun yang lalu, yaitu Zaman Mesozoic atau akhir Zaman Palaezoic. Sebuah penelitian terhadap fosil rayap yang ditemukan di hutan Arizona mengungkapkan bahwa rayap telah ada sekitar 220 juta tahun yang lalu atau 100 juta tahun sebelum serangga sosial lainnya menghuni bumi. Sebelumnya, bukti tertua yang ditunjukkan adalah fosil rayap Uralotermes permianum yang berasal dari pegunungan Ural, tetapi fosil ini diragukan berasal dari Periode Palaecene. Fosil rayap sejenis lainnya yaitu Valditermes brenanea Jarzembowski ditemukan di Inggris Bagian Utara yang kemungkinan anggota famili Cretatemitinae dan diperhitungkan hidup sekitar 120 juta tahun yang lalu, para ahli biologi rayap, menduga bahwa rayap memiliki hubungan filogenik yang sangat dekat dengan kecoa. Beberapa pustaka bahkan menyebutkan rayap sebagai ‘kecoa sosial” (social coakroaches), dan di tahun 2000-an sudah dinyatakan bahwa rayap merupakan keluarga dari kecoa (Ordo Blaatodea) (Lo et al. 2000; Inward et al. 2007).

Sebaran rayap di Indonesia

Penyebaran rayap berhubungan dengan suhu dan curah hujan sehingga sebagian besar spesies rayap terdapat di dataran rendah tropika dan hanya sebagian kecil di temukan di dataran tinggi. Namun rayap tidak hanya hidup di wilayah tropika tetapi juga di wilayah subtropika. Sebarannya bahkan cenderung meluas ke wilayah-wilayah temperate (500 Lintang Utara-500 Lintang Selatan). Daerah sebaran rayap di Indonesia meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia, yang tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Irian dll, karena itulah Indonesia kerap dijuluki sebagai Termite’s Paradise atau surganya rayap Jumlah spesies yang ada di dunia mencapai 2500 species dan di Indonesia sampai dengan tahun 1970 sudah ditemukan tidak kurang dari 200 species rayap dari berbagai genus (Tarumingkeng, 1971), 

http://www.rudyct.com/biologi_dan_perilaku_rayap.htm

Beberapa jenis rayap yang berpotensi sebagai perusak kayu pada bangunan gedung di beberapa daerah di Indonesia misalnya di DKI adalah Microtermes inspiratus, M. incertoides, Macrotermes gilvus, Odontotermes javanicus, Schedorhinotermes javanicus, Coptotermes curvignathus dan lain-lain

Aktivitas kawin rayap tanah

Pembahasan mengenai biologi rayap tidak lepas bagaimana rayap mengawali siklus hidupnya yang dimulai dengan adanya aktivitas kawin, ditandai oleh terbangnya kasta reproduktif (laron) yang dirangsang oleh perubahan cuaca atau faktor lingkungan di luar sarang.  Aktivitas terbang pada awalnya bukan untuk kawin seperti lebah madu, tetapi aktivitas terbang keluar sarang disebabkan karena terjadi perubahan di dalam sarang (Pearce, 1997).  Laron berkumpul (grooming) pada tempat  tertentu di dalam sarang dengan menunjukkan atraksi tertentu berupa gerakan-gerakan tidak teratur dan mengembangkan sayapnya  sehingga akan menarik individu lain untuk melakukannya bersama-sama.  Laron kemudian terbang berkelompok dan tidak beraturan arah.  Laron akan melepaskan sayapnya dengan menggoyang-goyangkan sayapnnya seperti akan terbang.  Jika sayap belum lepas, maka laron akan berjalan berputar-putar hingga sayapnya terlepas.  Gerakan laron yang sudah terlepas dari sayapnya seringkali lebih aktif, bergerak cepat dan terkadang melompat-lompat.  Perilaku tersebut juga dapat digunakan untuk menghindari pemangsa yang bergerak lambat sepertu kodok dan semut, tetapi membahayakan diri apabila terlihat oleh pemangsa yang tertarik dengan gerakan cepat  seperti cicak.  Pada rayap Macrotermes, laron memberikan gerakan yang spesifik sehingga menarik pemangsanya.

Lepasnya sayap menandai dimulainya aktivitas mencari pasangan.  Pasangan laron akan berjalan beriringan, laron betina (calon ratu) berjalan di depan dan laron jantan (calon raja) mengikuti di belakangnya.  Beberapa spesies rayap ada yang mengangkat bagian abdomennya sehingga membentuk sudut 90 C.  Dengan cara tersebut kemungkinan laron betina akan mengeluarkan feromon berupa bau untuk menarik laron jantan.

Laron yang telah berpasangan akan mencari tempat untuk dijadikan sarang.  Masih banyak yang belum diketahui mengenai mekanisme pencarian sarang.  Namun, laron akan mencari sarang dengan substrat yang sesuai untuk membentuk koloninya.  Pasangan laron yang telah menemukan sarang tersebut akan memulai membangun sarang baru tersebut.  Rayap Kalotermes melakukan kopulasi setelah 10-12 hari, mendiami sarang.  Macrotermes pada 3-8 hari, sedangkan Coptotermes sp berkopulasi satu sampai tiga hari setelah mendiami sarang.

Pada permulaan kopulasi, ratu bergerak sangat lamban tanpa menunjukkan adanya eskitasi (gerakan acak) dan pada saat yang tepat raja akan naik dari arah belakang sehingga kedua ujung abdomen sejajar dan terjadilah kopulasi selama 30 detik sampai dengan 2 menit.  Abdomen ratu setelah kopulasi akan mengalami perubaha  yang ditandai dengan membesarnya sisi bagian ventral yang dimulai dari ruas pertama hingga ruas terakhir.  Pembesaran bagian abdomen ini disebut dengan istilah physogatric yaitu membesarnya bagian abdomen secara terus-menerus karena semakin banyaknya jumlah telur yang dihasilkan dalam kantung telur.  Telur-telur yang dihasilkan akan menetas setelah beberapa hari dan nimfa muda akan mengalami beberapa pergantian kulit.  Pada biologi rayap, umur ratu dapat mencapai dua puluh tahun, umur ratu jauh lebih lama dibandingkan dengan umur raja.  Kemampuan menghasilkan telur mampu menjadi individu baru disebabkan karena adanya kantung sperma (spermateka) yang terdapat di dalam abdomen ratu sehingga mampu mengkonsumsi sperma raja untuk tetap subur.

Pembagian kasta dalam rayap

Rayap merupakan serangga sosial yang hidup dalam satu koloni. Sebuah koloni rayap selalu terdiri dari beberapa kasta yaitu kasta reproduktif yang terdiri dari sepasang ratu dan raja, kasta pekerja dan kasta prajurit.

Kasta Reproduktif
Berfungsi untuk memperbanyak anggota koloni.
Ratu dari beberapa jenis rayap mampu meletakkan 86.000 telur setiap hari.
Mampu bertahan hidup 6-20 tahun.
Pada koloni rayap yang kehilangan ratunya maka akan terbentuk ratu pengganti atau neoten.

Kasta Pekerja
Merupakan anggota terbesar dari sebuah koloni rayap.
Rayap pekerja selalu sibuk selama 24 jam sehari.
Bertugas memberi makan anggota koloni lainnya, merawat ratu, menjaga telur, membangun dan     memelihara sarang serta mengatur keseimbangan energi di dalam koloni.
Suka mengembara (foraging) secara kontinu dengan cara acak (random).

Kasta Prajurit
Bertugas melindungi koloni dari gangguan luar khususnya dari musuh-musuh alaminya misalnya    semut.

Pembahasan khusus sistem kasta pada rayap:https://pestmanagementtechnology.net/biologi-rayap-si…kasta-pada-rayap/ ‎

Sifat dan Perilaku Rayap

Trofalaksis
Adalah transfer material (makanan, senyawa kimia dan protozoa) dalam satu koloni. Perilaku trofalaksis merupakan ciri khas diantara individu-individu rayap dalam koloni rayap. Masing-masing individu sesekali mengadakan hubungan dalam bentuk menjilat, mencium, dan menggosokkan anggota tubuhnya satu dengan yang lainnya. Perilaku ini diinterpretasikan sebagai cara untuk menyampaikan makanan dari kasta pekerja ke anggota koloni lainnya. Pada biologi rayap, perilaku ini juga menjadi transfer mikroba simbion seperti protozoa flagellata bagi individu yang baru saja ganti kulit (ekdisis), karena pada saat ganti kulit, usus depan dan belakang juga tanggal sehingga protozoa simbion yang diperlukan untuk mencerna selulosa ikut keluar dan diperlukan reinsfeksi dengan cara trofalaksis. Sifat ini juga diperlukan agar terdapat pertukaran feromon diantara para individu rayap. Pada perkembangan teknologi pengendalian rayap, sifat trofalaksis merupakan dasar yang dapat digunakan dalam melakukan proses pengendalian. Proses pertukaran atau transfer makanan yang dilakukan pekerja dengan individu rayap lainnya menjadi dasar teknik pengendalian di masa sekarang. Pengendalian pada rayap kayu kering C. Cynocephalus menggunakan bubuk insektisida (bahan aktif Chloropicrin) yang disuntikkan pada kayu yang terserang. Individu rayap yang terkena bubuk insektisida tersebut akan kembali ke dalam sarang. Bubuk insektisida yang telah terbawa akan berpindah dari satu individu ke individu rayap yang lain melalui perilaku troflaksis tersebut, sehingga menyebabkan seluruh koloni rayap akan mati semua, belakang ada juga formulasi foam (busa). Pada pengendalian rayap tanah dengan sistem pengumpanan (baiting) memanfaatkan perilaku ini untuk menyebarkan racun ke seluruh kasta pekerja, sehingga kasta lainnya mati karena tidak ada yang memberi mereka makanan, dalam trofalaksis dikenal istilah Proctodeal yaitu transfer material melalui anus. Stomadeal adalah transfer material melalui mulut

Foraging (aktivitas jelajah)
Adalah perilaku rayap yang suka mengembara mencari makan secara kontinyu dan dilakukan secara acak. Pada ruang-ruang yang terbuka, aktivitas jelajah rayap ditandai oleh pembentukan liang-liang kembara (shelter tube) rayap dari tanah yang berfungsi melindungi aktivitasnya dari cahaya secara langsung.

Cryptobiotik
Adalah perilaku menghindari cahaya matahari secara langsung agar tidak terjadi dehidrasi di dalam tubuhnya. Tubuh rayap umumnya tidak tersklerotisasi dengan baik sehingga apabila tubuh rayap terkena sinar matahari secara langsung maka akan kehilangan air secara signifikan. Perilaku rayap ini tidak berlaku pada rayap kasta reproduktif yang melakukan penerbangan (swarming) untuk menemukan pasangan dan membentuk koloni baru, karena pada periode pendek (menemukan pasangan) tersebut mereka memerlukan cahaya lampu yang hangat dimana kondisi sekitar yang dingin . Akan tetapi, jika hingga pada kondisi yang sudah pagi dan laron-laron tersebut masih berada di tempat tersebut, maka laron-laron tersebut akan berkumpul dan saling menutupi satu sama lain agar terhindar dari cahaya matahari.

cryptobiotik
                           cryptobiotik (courtesy:alamy)

pencarian terkait pest management:

READ
PENGENDALIAN RAYAP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!