BIOLOGI PINJAL (FLEA)

BIOLOGI PINJAL (FLEA)

Biologi Pinjal
Biologi Pinjal (picture credit:pest control operations, A Purdue University)

Biologi Pinjal (flea): sebagai ektoparasit

Biologi pinjal (flea), merupakan serangga ektoparasit yang hidup pada permukaan tubuh inangnya.  Inangnya terutama hewan peliharaan seperti kucing dan anjing, juga hewan lainnya seperti tikus, kelinci, unggas/ayam, bahkan kelelawar dan hewan berkantung (marsupialia).  Seringkali orang tidak dapat membedakan antara kutu dan pinjal.

Secara morfologi perbedaan yang jelas antara kutu dan pinjal yang sama-sama tak bersayap adalah bahwa tubuh pinjal dewasa yang pipih bilateral, sedangkan kutu tubuhnya gepeng dorsoventral.  Dengan demikian bentuk pinjal secara utuh dapat terlihat dapat terlihat dari pandangan samping.  Bentuk tubuh yang unik ini ternyata amat sesuai dengan habitatnya diantara bulu/rambut inangnya.  Pengenalan pinjal secara mudah adalah apabila kita mengelus kucing kesayangan kita, dan tiba-tiba secara sekelebat kita menemukan makhluk kecil yang melintas diantara bulu-bulu kucing dan kemudian menghilang.

Secara sistematika, pinjal termasuk ke dalam filum Arthropoda, kelas Insekta, dan ordo Siphonaptera.  Dari famili ini, terdapat beberapa genus yang penting yaitu, Tunga (pinjal chigeo), Ctenocephalides (pinjal kucing dan anjing), Echidnophaga (pinjal ayam), Pulex, Ceratophyllus dan Xenopsylla (pinjal tikus).  Adapun jenis-jenis yang sering dijumpai sebagai ektoparasit utama dan menimbulkan masalah di Indonesia adalah Xenopsylla cheopis, Pullex irritans (pinjal tikus), Ctenocephalides felis, dan C. Canis.  Berikut ini dibahas biologi dan perilaku pinjal tikus dan lainnya secara umum.

Biologi dan Perilaku Pinjal (flea)              

Secara umum tubuh pinjal dewasa berbentuk pipih bilateral berukuran 1,5-4 mm, berwarna kuning terang hingga coklat tua.  Ektoparasit ini tidak bersayap tetapi memiliki tiga pasang tungkai yang panjang dan berkembang biak terutama digunakan untuk lari dan melompat.  Baik tungkai maupun tubuhnya tertutup oleh rambut-rambut kasar atau rambut halus.

Kepala kecil, berbentuk segitiga dengan sepasang mata dan 3 ruas antena yang berada pada lekuk antena di belakang mata.  Alat mulut mengarah ke bawah.  Pada beberapa jenis pinjal seperti C. felis, di dasar tepi kapsul kepala terdapat sederet duri besar yang disebut gena (genal ctenidium).

Bagian toraks terdiri atas 3 ruas yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks.  Pada beberapa jenis pinjal seperti C. felis, sisi posterior protoraks memiliki sederet duri besar yang disebut sisir pronotum (pronotal ctenidium).  Keberadaan ktenedia tersebut penting dalam taksonomi terutama dalam hal identifikasi pinjal.  Pinjal tikus  (Xenopsylla cheopis) memiliki garis tebal di daerah mesotoraks yang disebut sutura mesopleura yang membagi sternit menjadi dua bagian.  Pinjal betina memiliki spermateka yang terdapat pada ruas ke 6-8 abdomen.  Baik pinjal jantan maupun betina memiliki lempeng cembung dengan duri-duri sensori di bagian dorsal ruas abdomen ke-8 yang disebut pigidium.  Fungsi organ ini belum diketahui.

Telur Pinjal (flea)

Telur pinjal berbentuk oval, berwarna putih kekuningan dan berukuran sangat kecil.  Larvanya tidak mempunyai kaki dan terdiri atas 13 ruas.  Pupanya berada dalam suatu jalinan benang yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan membentuk kokon.

Perbedaan pinjal jantan dan betina terutama terlihat dari bentuk alat reproduksinya yang hanya diamati pada sediaan pinjal di bawah mikroskop.  Pinjal jantan memiliki alat genital berbentuk setengah lingkaran seperti siput yang tampak tembus pandang pada pertengahan abdomen.  Sedangkan pinjal betina memiliki kantong sperma (spermateka) yang berbentuk koma.  Spermateka berfungsi untuk menampung sperma di saat perkawinan.

Biologi pinjal mengalami metamorfosis sempurna yang diawali dengan telur, larva,pupa dan imago/dewasa.  Sepanjang hidupnya seekor pinjal betina dapat menghasilkan telur sebanyak 400-500 butir.  Telur berukuran panjang 0,5 mm, oval dan berwarna keputih-putihan.  Perkembangan telur bervariasi tergantung suhun dan kelembaban.  Telur menetas menjadi larva dalam waktu dua hari atau lebih.  Kerabang telur akan dipecahkan oleh semacam duri (spina) yang terdapat pada bagian kepala instar pertama.

Stadia larva pinjal (flea)

Larva yang muncul bentuknya memanjang, langsing seperti ulat, terdiri atas tiga ruas toraks dan 10 ruas abdomen, yang masing-masing dilengkapi dengan beberapa bulu-bulu yang panjang. Ruas abdomen terakhir mempunyai dua tonjolan kait yang disebut anal struts. Berfungsi untuk memegang pada substrat atau untuk lokomosi.  Larva berwarna kuning krem dan sangat aktif, dan menghindari cahaya.  Larva mempunyai alat mulut untuk menggigit dan mengunyah makanan yang bisa berupa darah kering, feses, dan bahan organik lain, yang jumlahnya cukup sedikir.  Larva dapat ditemukan di celah dan retakan lantai, di bawah karpet dan tempat-tempat serupa lainnya.  Larva pinjal (flea) mengalami tiga kali pergantian kulit (moulting) sebelum menjadi pupa.  Periode larva berlangsung selama 7-10 hari atau lebih tergantung suhu dan kelembaban.  Larva dewasa (mature) panjangnya sekitar 6 mm.  Larva ini akan menggulung atau mengkerut hingga berukuran sekitar 4×2 mm dan berubah menjadi pupa. 

Stadia Pupa Pinjal/flea

Stadium pupa berlangsung dalam waktu 10-17 hari pada suhu yang sesuai, tetapi bisa berbulan-bulan pada suhu yang kurang optimal, dan pada suhu yang rendah bisa menyebabkan imago/pinjal tetap terbungkus di dalam kokon.

Stadia Dewasa (imago) Pinjal/flea

Biologi pinjal secara umum merupakan parasit temporal berada dalam tubuh saat membutuhkan makanan, tidak permanen seperti halnya kutu yang selalu menetap pada tubuh inang.  Jangka hidup pinjal bervariasi pada spesies pinjal, tergantung mereka makan atau tidak, dan tergantung pada derajat kelembaban lingkungan sekitarnya.  Pinjal yang tidak makan tidak dapat hidup lama di lingkungan kering, tetapi di lingkungan yang lembab, bila terdapat reruntuhan yang bisa, menjadi tempat persembunyian, maka ia bisa hidup selama 1-4 bulan, sebagai contoh pinjal tikus Ceratophyllus fascinatus dipelihara tanpa makanan pada suhu 15,5C dan kelembaban nisbi 70% dapat hidup selama 17 bulan.  Pinjal tidak spesifik dalam memilih inangnya dan dapat makan pada inang lain.  Pada saat tidak menemukan kehadiran inang yang sesungguhnya, mereka mau makan inang lain dan mereka dapat tahan hidup dalam periode lama.  Pinjal Xenopsylla cheopis yang makan pada inangnya bisa hidup selama 38 hari, dan tanpa makan tetapi tinggal pada lingkungan yang lembab dapat hidup selama 160 hari.  Pinjal Pulex irritans yang makan pada inangnya bisa hidup selama 125 hari, dan tanpa makan tetapi tinggal pada lingkungan yang lembab dapat hidup selama 513 hari.   Biologi pinjal kucing Ctenocephalides felis yang makan pada inangnya bisa hidup selama 58 hari, dan tanpa makan tetapi tinggal pada lingkungan yang lembab dapat hidup selama 234 hari.

 

pencarian terkait pest management:

READ
Kutu anjing dan Kutu kucing (Flea)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!